Universitas Airlangga Official Website

Gagasan Inovasi Energi Terbarukan, Mahasiswa UNAIR Raih Medali Perak

Wahyuni Illahi peraih medali perak dalam (GEMA) yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Jember. (Foto: Istimewa)
Wahyuni Illahi peraih medali perak dalam (GEMA) yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Jember. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Wahyuni Illahi, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (TRIK) Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) raih prestasi membanggakan. Ia berhasil meraih Juara 2 dalam kompetisi Gagasan Energi Mahasiswa Indonesia (GEMA) 2025 dengan menggagas inovasi energi terbarukan. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Elektro Indonesia (FKMTEI) Politeknik Negeri Jember, berlangsung secara daring pada Rabu (19/11/2025).

Wahyuni IIlahi mengusung gagasan bernama BRIGHT, yang muncul dari keprihatinannya atas kondisi keterbatasan pasokan listrik di Pulau Bawean. “Setelah menelaah data iradiasi dan kecepatan angin, ternyata Pulau Bawean memiliki potensi energi terbarukan sangat besar yang belum termanfaatkan secara optimal. Hal ini melandasi lahirnya rancangan sistem pembangkit hybrid surya–angin berbasis sun tracker dan Internet of Things (IoT) LoRa yang mampu beroperasi sepanjang hari,” ungkapnya. 

Motivasi utamanya dalam mengikuti kompetisi adalah untuk menghadirkan solusi energi yang relevan dan masyarakat kepulauan butuhkan. “Sebagai mahasiswa teknik, saya ingin membuat gagasan yang tidak berhenti pada konsep, tetapi bisa diterapkan secara nyata, mudah dirawat, hemat biaya, dan memiliki dampak nyata bagi transisi energi hijau,” jelasnya.

Gagasan dilakukan secara bertahap menggunakan metode SAHABAT yang mengadopsi prinsip SMART, dimulai dari pengumpulan data cuaca, perancangan arsitektur hybrid surya-angin, hingga simulasi performa sistem. “Setiap tahap dilakukan secara iteratif melalui desain, analisis, dan revisi sehingga konsep teknologinya matang dan sesuai kebutuhan daerah kepulauan,” lanjutnya. 

Selama proses pengerjaan, Wahyuni menerapkan manajemen waktu yang ketat agar perkuliahan tetap berjalan optimal. “Tantangan terbesar terletak pada perhitungan potensi energi hybrid surya-angin secara akurat di tengah cuaca Pulau Bawean yang dinamis. Selain itu, integrasi sun tracker, turbin dua arah, dan IoT LoRa dalam satu sistem membutuhkan teknis yang matang. Hal ini dapat teratasi melalui kajian literatur, diskusi dengan mentor, serta simulasi multi-skenario,” tegasnya. 

Wahyuni menerangkan bahwa saat sesi presentasi, sempat menghadapi pertanyaan kritis dari juri. Namun, ia tetap bersikap tenang karena telah mempersiapkan dengan maksimal. “Menurut saya, faktor keberhasilan terletak pada kombinasi inovasi teknis dan relevansi kebutuhan daerah. Selain itu, pemaparan data dan kejelasan roadmap implementasi pada saat presentasi turut memperkuat faktor keberhasilan,” paparnya.

Terakhir, ia menargetkan pengembangan prototipe skala kecil sebagai tahap awal sebelum uji lapangan dan potensi kerja sama dengan pemerintah daerah Bawean. Ia menekankan bahwa gagasan ini menyediakan listrik 24 jam tanpa ketergantungan solar dan ramah lingkungan bagi masyarakat. Ia mendorong mahasiswa UNAIR lainnya agar berani dalam mengikuti kompetisi. “Kompetisi bukan hanya soal prestasi, tetapi sarana mengasah kemampuan, memperluas wawasan, dan memberi dampak melalui karya nyata, bahkan sekecil apapun ide yang kamu miliki,” pungkasnya. 

Penulis: Bethari Sri Indrajayanti

Editor: Khefti Al Mawalia