UNAIR NEWS – Cytomegalovirus (CMV) merupakan virus yang seringkali tidak menunjukkan gejala sama sekali. Namun, virus ini dapat berubah menjadi infeksi berat ketika menyerang pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan kondisi imunitas yang sangat rendah. Dampak yang sering terjadi bisa beragam. Dari mulai gangguan penglihatan mendadak, diare berkepanjangan, hingga radang otak. Fakta inilah yang menjadi fokus utama dalam seminar peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia yang terselenggara pada Sabtu (6/12/2025).
Mengenali, Menangani, dan Mencegah CMV
Narasumber seminar, Tri Pudy Asmarawati dr Sp PD K-PTI FINASIM, mengimbau bahwa risiko CMV bisa diminimalisir dengan memastikan penanganan cepat. Dampak paling besar akan dialami oleh pasien HIV dengan CD4 yang rendah hingga di bawah 100 sel/mm³.
“Normalnya CD4 itu 500 atau lebih, jadi berisiko kalau CD4-nya di bawah 100 sel/mm³. Biasanya dampaknya pada mata dengan muncul bercak, lalu usus, kalau ada luka-lukanya bisa jadi karena CMV, kalau ke otak. Dan terakhir pada paru-paru, yang paling sering itu biasanya TBC,” jelas dr Tri di Aula Dharmawangsa, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Kampus MERR-C.

Gangguan kesehatan bisa juga pada saluran cerna. CMV akan menimbulkan luka yang menyebabkan diare tak kunjung sembuh. Jika mengenai otak, pasien dapat mengalami sakit kepala hebat, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Waspada Gejala dan Cari Bantuan Medis
Kewaspadaan menjadi kunci utama. Pasien HIV harus curiga ketika CD4 sudah rendah lalu merasakan gejala awal seperti penglihatan memburuk, muncul bercak atau diare berkepanjangan. Ia menekankan bahwa pengobatan CMV tersedia dan efektif, asalkan pasien tidak terlambat mencari pertolongan.
Meski dampaknya berat, CMV bukanlah virus yang mudah menular. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh seperti air liur, darah, urin, air mata, hubungan seksual, transfusi darah, maupun ASI. Banyak orang tidak sadar bahwa mereka membawa virus ini karena seringkali bersifat dorman pada individu sehat.
“Oleh karena itu, titip-titip, ya. Harus rajin cek HIV dan kontrol kesehatan. Jangan ragu untuk mencari bantuan jika mengalami gejala CMV. karena CMV itu bukan kutukan, tapi ada obatnya,” tutup dr Tri.
Penulis: Dinnaya Mahashofia
Editor: Yulia Rohmawati





