UNAIR NEWS – Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Tetsar Izzah Shafa Alifia atau Shevi, berhasil menampilkan karya digital art miliknya dalam Rumpun +3 +2 Art Collective 2025 di Jepang. Karya tersebut dipamerkan bersama karya seniman muda dari berbagai negara. “Aku nggak nyangka karyaku bisa lolos dan dipajang di sana. Rasanya bangga banget,” ujarnya.
Perjalanan Awal dan Motivasi Berkarya
Shevi menjelaskan bahwa keikutsertaannya bermula dari keresahan terhadap situasi sosial politik Indonesia pada akhir Agustus. Ia mengikuti perkembangan melalui X dan merasa kewalahan melihat situasi yang mencekam. “Waktu itu Indonesia lagi chaos banget. Demo ada di mana-mana,” katanya. Tidak diizinkan ikut turun ke jalan, ia memilih bersuara lewat seni. “Kalau nggak bisa teriak di depan gedung, aku bisa teriak lewat seni,” tuturnya.

Informasi mengenai Rumpun ia temukan melalui X dan langsung menarik minatnya. Brainstorming mulai pada 31 Agustus, namun konsep final baru muncul pada hari terakhir. “Aku nekat ganti konsep di hari H. Setelah maghrib langsung eksekusi. Totalnya cuma empat jam,” jelasnya. Meski sempat ragu, ia tetap mengirimkan karya tersebut.
Konsep Visual dan Pesan yang Diangkat
Setiap elemen visual dalam karyanya memiliki makna khusus. Latar biru ia pilih sebagai simbol perlawanan, sedangkan siluet bunga lily menggambarkan harapan bagi Indonesia. “Aku pilih lily yang mekar karena aku pengen kasih pesan kalau masih ada harapan,” ujarnya. Sosok Bu Ana ia tampilkan dengan warna brave pink sebagai simbol keberanian perempuan bersuara. “Menurutku Bu Ana itu keren banget,” tegasnya. Ia juga menambahkan lapisan camera roll analog untuk menciptakan kesan bahwa situasi saat ini mengingatkannya pada tragedi 1998. “Kayak deja vu, dan itu serem kalau cuma diam,” katanya.
Harapan dan Pengalaman
Meskipun tidak ada dukungan langsung dari kampus, keluarga dan teman-teman sangat mendukungnya. Ia berharap masyarakat lebih peka terhadap kondisi negara. “Aku pengen orang-orang stop tone deaf. Kita harus peduli,” ucapnya. Pada hari pembukaan, ia melihat karyanya terpampang di situs resmi Rumpun. “Aku langsung senyum sendiri pas lihat namaku,” ceritanya. Walau belum bisa hadir ke Jepang, ia bangga karyanya dapat dinikmati pengunjung internasional. “YOU GO GUYS! Kalau mau tanya-tanya atau kolaborasi, langsung DM aku,” tutupnya.
Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto





