Universitas Airlangga Official Website

Atasi Krisis di Daerah Bencana, UNAIR Dirikan Instalasi Filter Air

Dosen dan mahasiswa FST berfoto bersama perwakilan masyarakat Jorong Limo Badak, Kecamatan Malalak, di depan instalasi filter air yang telah terpasang, Kamis (18/12/2025) (Foto: Dok. Tim FST)

UNAIR NEWS – Tiga pekan pascabanjir dan tanah longsor, sejumlah akses dasar bagi masyarakat masih belum pulih dengan sempurna. Selain akses mobilitas seperti jalan dan jembatan yang putus, akses akan kebutuhan air bersih juga masih menjadi kendala tersendiri. Di Jorong (dusun) Limo Badak, Malalak, Kabupaten Agam misalnya, akses air bersih masih cenderung terbatas. Pasalnya, sumber air yang biasa masyarakat gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, turut terdampak banjir dan tanah longsor.

Melihat kondisi tersebut, dosen dan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang juga tergabung dalam Tim Tanggap Darurat Bencana Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong percepatan pemulihan lewat instalasi filter air. Tim tersebut bertolak dari Surabaya ke Padang pada Sabtu (13/12/2025) kemudian melakukan survei, pemasangan, hingga finishing instalasi pada Kamis (18/12/2025).

Dosen FST yang juga terjun langsung ke lokasi bencana, Danar Arifka Rahman ST MT menerangkan bahwa pemasangan filter air di Limo Badak bertujuan untuk membantu mengembalikan akses air dan sanitasi bersih bagi masyarakat terdampak. Danar dalam keterangannya menceritakan proses instalasi filter air, mulai dari penentuan titik lokasi hingga sumber air yang digunakan. Sebagai informasi, Limo Badak menjadi salah satu kawasan terdampak di Kecamatan Malalak. Di sana, masyarakat mendirikan dapur umum di dekat sebuah masjid yang juga menjadi tempat berkumpul dan evakuasi.

“Untuk distribusi air bersihnya, kami mengambil dari tampungan masyarakat setempat, di mana air itu mengalir terus dari atas lalu kami ambil, kami tampung di suatu bak penampungan. Di penampungan tersebut kami pompa melalui kolong filtrasi. Hasil filtrasi tersebut bisa masyarakat manfaatkan untuk masak, minum, dan sebagainya,” terangnya.

Danar Arifka Rahman bersama tim FST saat proses instalasi filter air di salah satu masjid yang ada di Jorong Limo Badak, Kecamatan Malalak, Selasa (16/12/2025) (Foto: Humas UNAIR)

Untuk mendapatkan performa instalasi yang optimal, tak lupa Danar dan tim juga memberikan sosialisasi tentang perawatan instalasi pada masyarakat. “Kami juga sudah menyampaikan ke masyarakat setempat cara membersihkan filter sehingga bisa digunakan terus. Selama rutin dibersihkan, instalasi tersebut bisa awet sampai berbilang tahun,” jelasnya.

Dosen Teknik Lingkungan itu berharap, instalasi filter air tersebut bisa membawa manfaat bagi masyarakat Limo Badak untuk menjalani hari-hari pascabencana. “Harapan saya semoga hal kecil ini bisa bermanfaat untuk masyarakat Limo Badak. Kemudian dengan adanya sosialisasi cara penggunaannya, kami harap filter air ini bisa awet dan bisa terus mereka manfaatkan,” ucap Danar.

Bagi masyarakat Limo Badak, seperti Rio Hanafi, kehadiran instalasi filter air ini sangat membantu keberlangsungan hidup mereka sehari-hari. Pasca terjadinya bencana, aktivitas mereka sempat terganggu karena sumber air yang turut terdampak.

Rizqy Tasnima Fadhilah (kanan) saat bersama masyarakat setempat, Rio Hanafi (kiri) (Foto: Dok. Istimewa)

Rio berharap, instalasi filter air tersebut bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan bagi masyarakat setempat. “Masyarakat di Limo Badak ini juga akan turut berpartisipasi dan bergotong royong dalam perawatan instalasi ini. Mudah-mudahan alat ini bisa berfungsi untuk masyarakat di sini untuk selanjutnya dan seterusnya,” harapnya.

Instalasi filter air tersebut mencerminkan implementasi beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 6 Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui upaya pemulihan akses air bersih bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor di Limo Badak. Penyediaan air bersih ini juga mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera karena air hasil filtrasi digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak. Selain itu, kegiatan pemulihan pascabencana yang melibatkan perbaikan layanan dasar selaras dengan SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim sebagai bentuk respons adaptif terhadap dampak bencana.

Penulis: Yulia Rohmawati