UNAIR NEWS – Selaras dengan nilai-nilai Tri Dharma, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk membantu sesama melalui pengabdian masyarakat. Dalam hal ini, civitas academica memegang peran strategis dalam mengatasi permasalahan di masyarakat melalui implementasi pengetahuan, inovasi, serta solusi berbasis riset.
Dua civitas UNAIR, Muhammad Alwan Radyanto dan Ni Kadek Briggita Brillianti membagikan pengalaman mereka menjalankan misi kemanusiaan di lokasi terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor Sumatra Barat. Bersama Tim Tanggap Darurat Bencana UNAIR, keduanya bertolak ke lokasi sejak Sabtu (13/12/2025) lalu. Keduanya akan bertugas hingga Jumat (19/12/2025).
Berawal dari Ajakan Dosen
Alwan, mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) angkatan 2023 menyebut bahwa ajakan sang dosen yang membuatnya terketuk untuk mengikuti kegiatan tersebut. “Semua berawal dari ajakan dosen. Awalnya beliau melibatkan mahasiswa semester tujuh yang skripsinya tentang filtrasi. Lalu, beliau juga mengajak mahasiswa angkatan 2023 untuk bergabung. Saya pikir, sekalian untuk mengisi waktu libur, mengapa tidak?” terangnya.
“Sebenarnya juga karena dilihat kemarin di berita berita di Sumatra cukup banyak terdampak dan terisolir. Jadi, sumber air bakunya rusak, di situ juga saya terpanggil untuk menerima ajakan menjadi tim instalasi air bersih dari FST,” imbuhnya.

Dalam pengabdian masyarakat tersebut, Alwan ikut berperan dalam pemasangan instalasi filter air untuk masyarakat Limo Badak, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumbar. Ia bercerita, banyak tantangan yang harus ia dan tim lalui selama proses instalasi.
“Sebenarnya banyak tantangan dari sisi akses, ya. Kebetulan kami membawa barang banyak, lokasinya cukup jauh, dan akses kendaraan juga sulit, harus melewati sungai berbatu. Jadi, mau tidak mau kami harus mengangkat-angkat barang-barang, pipa-pipa tersebut, memindah-mindahkan dari mobil,” ujarnya.
Ini bukanlah kali pertama Alwan terlibat dalam program pengabdian masyarakat. Bersama himpunan mahasiswa di program studinya, ia sudah pernah mengikuti kegiatan sejenis. Namun, kali ini, ia merasakan pengalaman jauh berbeda. “Bukan kali pertama sebenarnya, tapi untuk yang paling berdampak ya ini. Karena kami tidur langsung di lokasi bencana dan menjadi garda terdepan,” katanya.
Aktif Ikuti Aksi Kemanusiaan
Senada dengan Alwan, bagi Briggita, menjalankan misi kemanusiaan di Sumatra Barat ini juga bukanlah yang pertama kali. Mahasiswa Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana itu sebelumnya telah aktif menjadi relawan di berbagai peristiwa bencana.

“Saya pernah menjadi relawan Covid-19 dari Kemenkes sebagai vaksinator, dan relawan Covid-19 dari Kemendikbud sebagai penyuluh kesehatan, transfer knowledge ke masyarakat. Saya juga pernah jadi relawan saat terjadi gempa di Bawean bersama teman-teman MMB sekaligus untuk uji coba modul yang kami buat,” ceritanya.
Selama berlangsungnya pengabdian masyarakat ini, Briggita banyak terlibat dalam hal koordinasi dengan pihak terkait. Khususnya tentang kondisi kebencanaan di Kabupaten Agam. “Selama kegiatan, saya berkoordinasi dengan pihak-pihak yang berkaitan di kebencanaan seperti BPBD, camat, dan pihak pemangku kepentingan di wilayah yang terdampak tersebut,” tuturnya.
Tidak hanya itu, latar belakangnya yang juga merupakan seorang perawat memungkinkan Briggita untuk turut memberikan pelayanan medis bagi tim yang turun langsung ke lapangan. “Di sela kegiatan, selama proses pemberian bantuan terdapat beberapa dari tim kami yang memerlukan penanganan medis sehingga saya juga berperan sebagai tim medis di sini dalam tim ini,” ucapnya.
Penulis: Yulia Rohmawati





