Pada sekitar tahun 1974 saya pernah menjadi sekretaris Biro Penerbitan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNAIR di mana ketuanya adalah senior senior saya (yang juga asisten dosen waktu itu) yaitu Mas Suherman Rosyidi. Saya ditugaskan ke Universitas Gajah Mada University Press di Yogyakarta untuk “ngasuh kaweruh” bagaimana menjalankan usaha. Saya mendapatkan informasi bahwa para dosen dan asisten dosen UGM itu “kaya” bukan karena gaji yang diterimanya, melainkan dari insentif menulis buku ajar di UGM University Press. Maklum fee yang diperoleh itu sekian persen dari omset buku yang ditulisnya dan dijual diseluruh nusantara. Sekarang lembaga penerbitan di UGM itu sudah berkembang pesat, saya lihat di Google nampak ada tempat display buku yang tertata rapi dan dipajang seperti di gedung perpustakaan modern.
Saya sebagai alumni UNAIR tentu ikut memiliki obsesi lembaga penerbitan yang ada Airlangga University Press atau yang lebih dikenal sebagai AUP dan merupakan salah satu lembaga yang bernaung di bawah Universitas Airlangga yang berdiri sejak tanggal 22 Januari 1972 – itu juga berkembang pesat seperti yang di UGM atau UI dan sebagainya. Karena itu saya beberapa kali menerbitkan buku-buku antara lain “Renungan Insipirasi Bangsa”, “Kisah Anak Kampung Surabaya” dan “Menyigi Negeri, Mambaca Dunia” – yang merupakan kumpulan artikel-artikel saya di media online. Saya sangat puas dengan hasil kinerja AUP dalam menerbitkan buku-buku saya itu karena sangat profesional dan hasil nya bagus. Tentu saya akan terus akan menggunakan jasa AUP dalam menerbitkan buku-buku saya selanjutnya.
Namun sebagai alumni UNAIR saya ingin memberikan masukan-masukan pada AUP agar berkembang kearah yang lebih baih mengingat persaingan di industri ini sekarang sangat “tough”, “fierce” alias keras. Persaingan keras itu seiring dengan kemajuan IT yang sangat cepat dan canggih, perkembangan ilmu multi media juga cepat, banyaknya bermunculan content creator termasuk perusahaan/bisnis percetakan dan penerbitan.
Perusahaan-perusahaan itu berkembang di berbagai kota di nusantara ini terutama di Pulau Jawa dan saling berlomba melakukan strategi marketingnya misalnya menawarkan proses cepat memproses naskah bisa terbit dalam sebulan, membantu dosen memenuhi KUM (Kumulatif Unit Kegiatan), membantu memasarkan buku baik lewat market e-book, Google Play Books dan ekosistem Google lainnya, memberikan layanan gratis layout, desain sampul, binding dan wrapping; proses penerbitan didukung oleh tim yang profesional dan pengurusan ISBN. Model self-publishing memberi penulis kontrol penuh atas harga dan royalti, menciptakan passive income dan lain-lain.
AUP dikelilingi oleh faktor eksternal diatas yang sangat agresif melakukan terobosan-terobosan dan strategi marketing yang intens. Namun saya percaya AUP mampu menjadikan dirinya sebagai alah satu Profit Center di Universitas Airlangga yang statusnya sebagai Perguruan Tinggi-Berbadan Hukum, mengingat AUP memiliki “strengths” antara lain: berada di naungan Perguruan Tinggi yang ternama dan bereputasi, memiliki printing machinery yang modern, SDM yang punya dedikasi tinggi dan tentu pimpinan dan jajaran manajemennya yang juga profesional.
Untuk menjadi entitas salah satu Profit Center dilingkungan UNAIR, tentu perlu ada upaya yang “breakthrough” – terobosan diberbagai bidang. Misalnya AUP perlu memiliki ruang Display buku-buku hasil penerbitannya yang “Cosy” – menyenangkan bagi pengunjung; perlu meng-agendakan “annual books sales” yang bisa dikunjungi tidak hanya civitas academica UNAIR tapi juga masyarakat umum, membentuk tim marketing dan content creator yang tangguh; mengirim tim marketing melakukan “outreach program”, menerima naskah-naskah dari masyarakat umum tidak hanya tentang murni akademik, perlu mengadakan “company tour” dengan mengundang masyarakat kampus – antara lain para mahasiswa baru untuk berkunjung dan melihat-lihat fasilitas AUP; mengembangkan “coverage” atau cakupan yang luas dalam melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga lain antara lain berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, SMA-SMA, AAL, Polri, Pesantren, DPRD, Pemerintah Daerah, Lembaga-Lembaga Penelitian, komunitas-komunitas anak-anak muda dan sebagainya.
Saya kok yakin Bapak Reptor UNAIR Prof. Madyan dan jajarannya akan setuju bila AUP dikembangkan kearah yang lebih baik dan menjadi salah satu Profit Center dilingkungan UNAIR dan akan menjadi “jujugan” atau “point of attraction” bagi civitas academica dan masyarakat umum.
Semoga.





