UNAIR NEWS – Tim mahasiswa yang tergabung dalam program Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-7 Universitas Airlangga (UNAIR) mengenalkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk atasi pencemaran lingkungan. Kegiatan itu ditujukan bagi sekelompok ibu rumah tangga serta kepala keluarga di Kelurahan Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi. Acara itu sukses terlaksana pada Selasa (13/1/2026).
Muhammad Aqeel Ramadhan Nurcahyo selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan programnya itu berawal dari tingginya volume sampah organik rumah tangga yang belum terkelola secara optimal. “Kami melihat masih banyak sampah organik rumah tangga yang langsung dibuang atau dibakar, padahal kondisi ini sering menimbulkan bau tidak sedap hingga permasalahan lingkungan,” ujarnya.
Aqeel dan timnya lantas melihat potensi pengelolaan sampah berbasis budidaya Maggot BSF. “Kami ingin mengubah sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Maggot BSF dapat menjadi solusi alternatif yang efisien untuk mengurai sampah organik,” ucapnya.
Hasilkan Pakan Ternak dan Pupuk
Ia menambahkan bahwa hasil budidaya tidak hanya berupa maggot sebagai pakan ternak atau ikan, tetapi juga kasgot yang dapat diolah menjadi pupuk organik berkualitas. Selama pelaksanaan, kegiatan mencakup pemaparan materi mengenai pengenalan Maggot BSF, siklus hidup, serta manfaatnya bagi rumah tangga. Setelah itu, tim melanjutkan dengan demonstrasi teknis budidaya menggunakan prototype wadah sederhana.
“Wadah yang kami gunakan dari bahan-bahan yang mudah didapat dan terjangkau, seperti galon plastik, selang wastafel, dan wadah thinwall,” jelas Aqeel.
Aqeel menjelaskan untuk galon plastik berfungsi sebagai media pembesaran larva guna mengurai sampah organik. Sementara itu, selang wastafel berfungsi sebagai jalur migrasi alami bagi maggot matang menuju wadah penampungan akhir. “Pada fase pre-pupa, maggot akan bergerak mencari tempat kering. Jalur ini membantu maggot terkumpul secara otomatis sebelum bermetamorfosis menjadi lalat BSF,” tuturnya.
Aqeel menyebut lalat BSF berbeda dengan lalat rumah atau lalat hijau karena tidak membawa penyakit dan tidak hinggap di makanan manusia. “Lalat BSF fokusnya hanya bereproduksi. Dengan budidaya Maggot BSF, warga mendapat pakan ternak kaya protein sekaligus pupuk organik (kasgot) dari sisa produksinya. Harapannya, ini akan menumbuhkan semangat wirausaha kreatif dan tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian lingkungan desa,” tambahnya.
Bekali Kemandirian Bagi Masyarakat
Melalui program tersebut, Aqeel dan timnya ingin menanamkan nilai kemandirian dan keberlanjutan kepada masyarakat. “Kami membuktikan dengan memulai budidaya maggot tidak memerlukan modal besar atau peralatan rumit. Bisa juga menerapkan secara mandiri di tingkat rumah tangga,” ujar Aqeel.
Terkait evaluasi programnya, ia menilai kegiatan yang ia jalankan bersama tim berjalan lancar dan mendapat respons positif dari warga. Lebih lanjut, program itu juga berupaya mendukung target pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dalam berbagai hal.
“Kegiatan kami ingin mengusung capaian SDGs 12, khususnya pada pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga. Selain itu, juga mendukung SDGs 8 dengan membuka peluang ekonomi baru serta membantu menekan emisi gas metana dari sampah untuk target SDGs ke 13,” pungkas Aqeel.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Ragil Kukuh Imanto





