UNAIR NEWS – Kebiasaan gaya hidup modern kini bukan hanya sekadar soal pola hidup kekinian. Namun juga dapat menyangkut kapasitas tubuh dalam bertahan dan beradaptasi. Isu tersebut menjadi benang merah dari gagasan orasi Prof Dr Lilik Herawati dr MKes dalam Pengukuhan Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR bidang Ilmu Fisiologi Lifestyle.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus MERR-C pada Kamis (22/1/2026). Dalam orasi ilmiahnya, Prof Lilik menjelaskan bahwa fisiologi lifestyle merupakan disiplin ilmu yang mengkaji studi mekanistik kerja tubuh dalam merespons pola makan, aktivitas fisik, istirahat, dan manajemen stres. Mulai dari tingkat sistemik hingga molekuler. “Apabila memahami mekanismenya, diharapkan dapat berkontribusi dalam pencegahan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup,” ungkapnya.
Gula Penyumbang Kalori
Lebih lanjut, Prof Lilik menyoroti kadar serapan gula. Melalui data riset yang ia kumpulkan, ia menyebutkan bahwa gula sifat mudah terserap dan menaikkan kadar gula darah. Gula tersebut dapat menyumbang kalori sebesar 3–5 persen dari kebutuhan harian. Ia mengungkapkan dengan fenomena nyata yaitu terjadinya disfungsi tanpa kerusakan. Di mana kondisi ketika sel penghasil insulin terlihat utuh namun fungsinya sudah terganggu.

Ia menegaskan bahwa disfungsi seluler seringkali terjadi sebelum kerusakan fisik terlihat jelas. “Janganlah mudah tertipu oleh struktur yang utuh karena struktur organnya dapat rapuh dahulu,” pungkasnya.
Pola makan fluktuatif tinggi kalori, imbuh Prof Lilik, terbukti lebih merusak daripada pola konsumsi tinggi kalori yang terus-menerus karena memicu lonjakan radikal bebas dan aktivasi jalur kematian sel terprogram (apoptosis). Kendati demikian, konsistensi nutrisi menjadi sangat krusial yang harus dengan jumlah kalori yang aman.
Aspek Olahraga
Kemudian, Prof Lilik menekankan bahwa olahraga merupakan stimulus biologis yang mendorong terjadinya adaptasi fisiologis baru. Namun, berlawanan dengan aspek itu, ia mengingatkan bahwa olahraga intensitas tinggi yang dilakukan secara mendadak justru berpotensi menimbulkan stres oksidatif dan kerusakan otot rangka.
Ia menyebutkan kerusakan sel otot rangka ditandai dengan kenaikan penanda biologis LDH & CK-MM. Itulah yang menyebabkan sistem tubuh belum siap menghadapi gelombang radikal bebas. “Ketika olahraga pun kita harus memperhatikan dosisnya, harus terukur. Jika salah dosis, olahraga jadi rancu,” tutur Prof Lilik.
Tak hanya itu, pada aspek kesehatan reproduksi wanita olahraga dengan intensitas sedang yang dapat mendukung perkembangan folikel ovarium secara sehat dan seimbang. Dengan beberapa aspek tersebut, pemulihan keseimbangan tubuh dikombinasikan melalui sinergi membatasi kalori dan olahraganya intensitas sedang pada subjek yang suka makan banyak, dapat bekerja secara sinergis untuk memulihkan homeostasis.
Penulis: Adinda Octavia Setiowati
Editor: Yulia Rohmawati





