Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa BBK 7 Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut Anak Melalui Metode Interaktif

Mahasiswa BBK 7 UNAIR memberikan edukasi kesehatan gigi dan mulut kepada siswa SDN 1 Kedungbanjar melalui metode interaktif
Mahasiswa BBK 7 UNAIR memberikan edukasi kesehatan gigi dan mulut kepada siswa SDN 1 Kedungbanjar melalui metode interaktif (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah dasar masih kerap luput dari perhatian. Minimnya pemahaman sejak dini membuat anak-anak seringkali belum menyadari pentingnya menjaga kebersihan gigi sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari. Keresahan inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) Universitas Airlangga (UNAIR) kelompok 7 menggagas program Sehatkan Gigi dan Mulut Anak Ceria (Senyum Ceria).

“Di usia tersebut, anak-anak masih sangat responsif dan antusiasnya tinggi. Jadi, kebiasaan yang ditanamkan saat ini lebih berpeluang melekat sebelum muncul masalah gigi yang lebih serius,” ujarnya.

Pemetaan Pengetahuan Awal Siswa

Sebelum penyampaian materi, tim KKN BBK 7 terlebih dulu melakukan pre-test untuk memetakan pengetahuan awal siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar anak belum memiliki pemahaman yang memadai terkait kesehatan gigi dan mulut. Adli menyebut, kekurangan pengetahuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknis menyikat gigi semata.

“Bukan cuma soal cara sikat gigi yang benar, tapi juga hal dasar seperti berapa kali sikat gigi dalam sehari, kapan harus ke dokter gigi, sampai kebiasaan apa saja yang berdampak langsung pada kesehatan mulut,” jelasnya.

Berdasarkan temuan tersebut, materi kemudian tim sampaikan dengan pendekatan yang interaktif. Adli memaparkan, kegiatan dikemas melalui sesi tanya jawab, permainan, serta lagu edukatif agar anak-anak tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami alasan di balik kebiasaan menjaga kesehatan gigi. 

Untuk memperkuat pemahaman, tim KKN BBK 7 juga menggunakan visualisasi rumus kerusakan gigi sebagai media edukasi. Kendati diadaptasi dari konsep kimia, penyampaiannya mereka sederhanakan kembali agar mudah diterima anak-anak. Menurut Adli, pendekatan ini dapat membantu siswa memahami proses terjadinya gigi berlubang. “Anak-anak kami ajak melihat bahwa bakteri dan sisa makanan manis bisa menghasilkan asam, dan asam itulah yang merusak gigi,” paparnya.

Selain fokus pada kesehatan gigi dan mulut, tim KKN BBK 7 juga mengaitkan materi dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) agar anak-anak memahami keterkaitan yang lebih luas. Adli menjelaskan bahwa kebiasaan menjaga gigi tidak dapat dipisahkan dari kebersihan diri dan lingkungan. “Semua itu saling berkaitan. Misalnya air yang digunakan dan kebiasaan mencuci tangan juga berpengaruh,” ujarnya. 

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, mahasiswa kembali melakukan post-test yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa dibandingkan sebelum edukasi diberikan. Tim menilai, anak-anak lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi, membatasi konsumsi makanan manis, serta menerapkan kebiasaan hidup bersih dalam keseharian. 

“Lewat program Senyum Ceria, semoga edukasi yang kami berikan pada anak-anak di SDN 1 Kedungbanjar bisa membentuk kebiasaan jangka panjang. Kami berharap anak-anak mulai terbiasa menjaga kesehatan gigi sejak sekarang dan membawa kebiasaan itu sampai mereka dewasa,” pungkasnya. Sebagai informasi, kegiatan Senyum Ceria juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Tepatnya pada nomor 3 dan 4, yaitu good health and well-being serta quality education.

Penulis: Fania Tiara Berliana M

Editor: Yulia Rohmawati