UNAIR NEWS – Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Lamongan mendorong penguatan upaya pencegahan berbasis masyarakat. Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga melaksanakan sosialisasi pencegahan demam berdarah bersama kader Desa Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, pada Senin, 12 Januari 2026.
Kegiatan berlangsung di Balai Desa Blawirejo mulai pukul 09.00 WIB. Sosialisasi diikuti 25 peserta pertemuan kader yang mewakili unsur RT dan RW, kepala dusun, tokoh masyarakat, serta kader kesehatan desa. Kepala Desa Blawirejo bersama perangkat desa hadir dalam kegiatan ini. Bidan Desa Blawirejo turut mendampingi sebagai bentuk kolaborasi mahasiswa dan tenaga kesehatan.
Dalam pemaparan awal, mahasiswa BBK 7 Unair Menyoroti data peningkatan kasus DBD di Kabupaten Lamongan yang menunjukkan tren mengkhawatirkan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, tercatat sebanyak 416 kasus pada tahun 2022, menurun menjadi 193 kasus di tahun 2023, namun kembali melonjak menjadi 553 kasus pada tahun 2024, dan meningkat tajam hingga 671 kasus pada tahun 2025. Kondisi ini menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan DBD berbasis lingkungan.
Desa Blawirejo menghadapi risiko demam berdarah yang dipengaruhi oleh keberadaan genangan air rumah tangga, tempat penampungan air terbuka, serta keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai fase kritis Demam Berdarah Dengue. Kondisi ini meningkatkan risiko keterlambatan penanganan saat demam mulai menurun.
Mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga menyampaikan data peningkatan kasus DBD di Kabupaten Lamongan sebagai dasar urgensi kegiatan. Data Dinas Kesehatan mencatat 416 kasus pada tahun 2022, menurun menjadi 193 kasus pada 2023, kemudian meningkat menjadi 553 kasus pada 2024, dan kembali naik menjadi 671 kasus pada 2025. Tren tersebut menunjukkan perlunya peningkatan literasi kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Materi sosialisasi disampaikan oleh mahasiswa BBK 7 Unair. Pemateri menjelaskan Demam Berdarah Dengue sebagai penyakit menular akibat virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang berkembang biak pada lingkungan dengan genangan air.
Peserta memperoleh pemahaman mengenai perbedaan fase demam dan fase kritis DBD. Fase demam ditandai dengan suhu tubuh di atas 38,5 derajat Celsius, sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta munculnya bintik merah pada kulit. Fase kritis terjadi saat demam menurun dan menjadi fase berisiko akibat kebocoran plasma dan penurunan trombosit.
Mahasiswa menekankan pentingnya deteksi dini dan rujukan ke fasilitas kesehatan apabila demam berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Pencegahan berbasis lingkungan disampaikan melalui penerapan gerakan 3M, yaitu menguras, menutup, dan mengubur tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Penggunaan abate sesuai dosis pada penampungan air non konsumsi juga disosialisasikan sebagai langkah pendukung.
Kegiatan ini meningkatkan literasi kesehatan kader Desa Blawirejo terkait pencegahan penyakit menular dan tanda bahaya Demam Berdarah Dengue. Kader berperan sebagai penyampai informasi lanjutan kepada warga serta penggerak perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan masing-masing. Peran ini menurunkan risiko keterlambatan penanganan dan penyebaran DBD di tingkat desa.
Kegiatan sosialisasi ini mendukung SDG 3 Good Health and Well-being sebagai SDGs mandatory Universitas Airlangga melalui penguatan upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat desa berbasis kader. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan juga mendukung SDG 17 Partnerships for the Goals dalam pengendalian Demam Berdarah Dengue berbasis komunitas.
#KKNBBK7Unair #PenyuluhanDBD #CegahDemamBerdarah #DesaBlawirejo #Lamongan





