UNAIR NEWS – Permasalahan penumpukan sampah di TPS Desa Duyung hingga kini masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat. Kurangnya pemahaman mengenai pengelolaan dan pemusnahan sampah rumah tangga menyebabkan sebagian warga memilih cara paling praktis, yakni membakar sampah secara terbuka. Praktik ini memang dianggap efektif mengurangi volume sampah, namun asap pekat yang dihasilkan berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan dan lingkungan. Risiko gangguan pernapasan, khususnya bagi anak-anak dan lansia, kerap terabaikan karena kebiasaan tersebut telah berlangsung secara turun-temurun.
Menanggapi kondisi tersebut, Mahasiswa Universitas Airlangga yang tergabung dalam tim Kuliah Kerja Nyata-Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) ke-7 di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menghadirkan program kerja unggulan bertajuk “No-Fume Bakar” sebagai solusi pengelolaan sampah yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Program ini merupakan bentuk pengabdian mahasiswa dalam mendukung upaya pencapaian SDGs poin 6 tentang sanitasi dan lingkungan yang layak serta poin 9 mengenai inovasi dan penerapan teknologi sederhana yang berkelanjutan. No-Fume Bakar dirancang dengan konsep sederhana, mudah diterapkan, dan dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh masyarakat setelah masa KKN berakhir.
Program ini dilaksanakan secara bertahap, diawali dengan melakukan survei pembelian alat dan bahan pembuatan ke toko bangunan setempat, penentuan lahan yang akan dipakai, proses pembuatan fisik, hingga penamaan program kerja yang berlangsung selama 2 minggu, mulai dari tanggal 7 Januari 2025 hingga 21 Januari 2025.
Setelah bentuk fisik telah jadi, dilakukan kegiatan uji coba dan edukasi penggunaan alat No-Fume Bakar pada tanggal 29 Januari 2025, yang melibatkan perangkat desa serta warga Dusun Bantal. Edukasi ini bertujuan untuk memastikan pemahaman masyarakat dalam penggunaan No-Fume Bakar, mulai dari pemilahan sampah, penataan bahan bakar, hingga pengaturan aliran udara. Antusiasme warga terlihat dari keaktifan mereka dalam mengajukan pertanyaan terkait jenis sampah yang dapat dibakar, perawatan alat, serta keamanan penggunaan dalam jangka panjang.
Rangkaian kegiatan ini kemudian ditutup dengan peresmian alat pembakaran sampah No-Fume Bakar pada tanggal 2 Februari 2025, yang dilakukan langsung oleh Kepala Desa Duyung. Peresmian tersebut menjadi penanda dimulainya penerapan teknologi pembakaran minim asap secara resmi di Dusun Bantal.
“Terima kasih, yang pertama saya ucapkan terima kasih kepada adik-adik KKN Universitas Airlangga sudah memberikan kontribusi dengan sangat baik terutama terkait masalah pembakaran sampah. Saya mewakili warga desa Duyung menyampaikan bahwa No-Fume ini sangat bermanfaat sekali dan nantinya saya tinggal melanjutkan ke RT, menyusun anggarannya hingga mencari lahan yang lebih luas untuk pembakaran sampah untuk mengurangi polusi dan asap. Saya merasa program ini berkelanjutan dan dapat dikembangkan ke Masyarakat setempat”, ujar Kepala Desa Duyung, Bapak Juriyanto Bambang Siswantoro.
Melalui program No-Fume Bakar, mahasiswa KKN-BBK 7 Desa Duyung berharap Dusun Bantal dapat menjadi percontohan dalam penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi langkah awal menuju peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis: Sinta Nur Anggraeni





