Universitas Airlangga Official Website

Research Talk bersama Prof Alexander Loch, Ulas Dinamika Migrasi Perawat

REACH UNAIR berfoto bersama Prof Alexander Loch
REACH UNAIR berfoto bersama Prof Alexander Loch (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Mobilitas tenaga kesehatan global menjadi topik hangat dalam Research Talk with Prof Alexander Loch dari Jerman terselenggara oleh Research Center in Advancing Community Healthcare (REACH), Universitas Airlangga (UNAIR) pada Jumat (13/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen REACH sebagai pusat riset yang aktif mendorong diskusi ilmiah mengenai isu kesehatan global dan kebijakan tenaga kesehatan internasional. Diskusi ini mengajak peserta lebih dekat bagaimana arus bigrasi perawat Indonesia ke Jerman tidak hanya menjadi fenomena statistik. Tetapi juga pengalaman nyata yang sarat peluang dan tantangan.

Dalam pemaparannya, Prof. Alexander Loch menyoroti kebutuhan besar tenaga perawat di Jerman, yang mendorong proses perekrutan dari luar negeri, termasuk kerja sama resmi dengan Indonesia. Lewat skema government-to-government (G-to-G), perawat Indonesia diberangkatkan secara terstruktur dan berada dalam payung regulasi yang jelas.

Namun, jalan menuju praktik profesional di Jerman tidaklah mudah. Salah satu rintangan utama adalah kemampuan bahasa Jerman pada level B2 yang harus dicapai. Jadi, peserta diajak untuk memahami bahwa keberhasilan migrasi bukan hanya soal kemampuan klinis semata, tapi juga kesiapan bahasa, adaptasi budaya, dan kondisi mental yang kuat.

Dalam sesi ini juga dibahas kesenjangan kapasitas perawat antara Indonesia dan Jerman yang membentuk dinamika push and pull factors. Prof. Loch pun menjelaskan konsep migration circle, yang meliputi tahap persiapan sebelum keberangkatan, proses rekrutmen, masa adaptasi di negara tujuan, hingga kemungkinan reintegrasi setelah kembali ke Indonesia.

Yang menarik, hasil survei terbaru yang disampaikan menunjukkan bahwa banyak perawat Indonesia di Jerman merasa puas dengan pekerjaannya dan mengalami peningkatan kondisi finansial. Lingkungan kerja yang suportif dan kuatnya jejaring diaspora menjadi faktor penting dalam mempercepat adaptasi. Namun, tak bisa dipungkiri, tantangan seperti hambatan bahasa, perbedaan budaya, keterbatasan peluang promosi, dan pengalaman diskriminasi masih jadi catatan penting.

Di penghujung sesi, Prof. Loch menegaskan bahwa migrasi ini bukan cuma soal “brain drain”, tapi juga bagian dari pertukaran global yang dinamis. Dengan persiapan yang baik dan dukungan institusi yang kuat, pergerakan tenaga perawat internasional ini sebenarnya bisa membawa manfaat yang berkelanjutan, baik bagi negara asal maupun negara tujuan.

Sebagai tambahan, peserta juga diperkenalkan pada peluang studi dan beasiswa melalui www.daad.de, yang membuka wawasan bahwa Jerman bukan hanya tujuan untuk bekerja, tapi juga merupakan tempat yang bagus untuk pengembangan akademik dan profesional.

Penulis: Prof Ferry Efendi