Mas Akhyari Hananto, founder dari media Good News From Indonesia/GNFI menulis pengalaman pribadinya yang mengharukan di bulan suci Ramadan, 24 Februari 2026 di rubrik Opini GNFI yang berjudul “Senyum Ibu-Ibu Jualan Takjilnya Tidak Habis”. Mas Arry begitu panggilannya merasa terkesima bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang berjualan makanan untuk takjil -buka puasa pada saat gerimis; dan jualannya itu tidak habis karena tidak ada pembelinya. Mas Ary menanyakan makanan atau jualannya yang tidak terjual itu dikemanakan. Atas pertanyaan itu sang Ibu ini tidak menunjukkan wajah kesedihan. Beliau justru tersenyum. Sangat tulus. Jenis senyum yang hanya bisa lahir dari hati yang sudah selesai dengan urusan dunia.
“Saya bawa pulang, Mas. Nanti habis magrib saya hantarkan semua ke masjid. Buat bapak-bapak atau anak-anak yang tadarus selepas Tarawih. Selagi masih enak dimakan, gak mungkin dibuang,” jawabnya ringan. Mas Arry menulis “Beliau melihatnya sebagai “undangan” dari Allah untuk bersedekah, sejauh kemampuan Ibu itu. Seolah-olah Allah sedang berkata kepada beliau: “Hari ini daganganmu sengaja tidak Aku habiskan, karena Aku ingin kamu menjamu tamu-Ku di masjid nanti malam.”
Atas ketulusan si Ibu ini, Mas Arry berpendapat bahwa si ibu merupakan wajah asli Indonesia. Bangsa Indonesia ini dikenal sebagai bangsa yang suka tolong-menolong.
Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dan Abdullah bin Hubsyi Al Khots’ami, bersabda atas pertanyaan sedekah mana yang paling afdhol?, beliau bersabda “sedekah dari orang yang serba kekurangan”.
Hadis Nabi itu seakan sering terjadi di Indonesia dan ini dibuktikan oleh anak-anak muda manca negara yang melakukan “social experiment” atau eksperimen sosial di Indonesia. Para wisatawan bule dari Amerika Serikat dan Eropa di kanal you tube mereka terlihat meminta bantuan, pertolongan kepada warga desa, kampung- kalau tidak salah di Pulau Lombok dan Jawa – untuk meminta makan, minum dengan alasan tidak mempunyai uang sepeserpun. Pemuda bule itu minta makan dan minum pada penjual gorengan, penjual es ditepi jalan dan pada ibu-ibu di warung kumuh di desa. Para wisatawan bule itu terkejut karena semua penjual/warga desa atau kampung yang hidup dalam kondisi sederhana itu dengan tulus ikhlas memberi makanan dan minuman tanpa pamrih, bahkan dengan senyuman khas orang Indonesia. Para bule itu terkejut karena sikap ramah dan mau membantu dari warga yang hidup sederhana itu tidak pernah ditemui dinegara mereka yang tergolong negara maju dan modern.
Saya mengutip tulisan mas Arry yang mengatakan bahwa berdasarkan data dari Charities Aid Foundation (CAF) dalam World Giving Index disebutkan bahwa selama bertahun-tahun, Indonesia hampir tidak pernah lepas dari posisi puncak negara paling dermawan di dunia. Kita berada di atas negara-negara yang rakyatnya kaya-kaya. Mungkin dunia lalubertanya-tanya, bagaimana mungkin bangsa yang pendapatan per kapitanya masih jauh di bawah mereka bisa menjadi yang nomor satu dalam hal memberi ke orang lain tanpa pamrih? Jawabannya ada di rincian data itu. CAF mengukur kedermawanan bukan dari seberapa besar nilai uang yang kita tulis. Mereka mengukur seberapa sering kita menolong orang yang bahkan tidak kita dikenal. Seberapa sering kita meluangkan waktu untuk kerja sosial, tanpa pamrih. Dan seberapa rutin kita memberikan donasi, sekecil apa pun itu.
Kita bangsa Indonesia ini tentu bersyukur karena Allah Maha Besar menganugerahi bangsa ini dengan kekayaan sumber daya alam yang sepertinya tak terhingga, menganugerahi tanah yang subur, kita lempar bijih cabe atau lomnok dihalaman rumah kita, besoknya sudah tampak tumbuh subur.
Namun tidak hanya itu, kita juga bersyukur bahwa Allah SWT menganugerahi “undangan” untuk berderma kepada sesama meskipun dalam kondisi yang penuh kesederhanaan.
Karena itulah saya sangat cinta Indonesia ini.





