UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi inklusif bagi penyandang disabilitas. Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan Yayasan Cakrawala Maju Berdaya di Bogor melalui unit pelatihannya, DIFABIZ Academy.
Program yang dijalankan bertajuk “Barista Berdaya”, yaitu pelatihan vokasi yang membekali peserta difabel dengan keterampilan meracik kopi sekaligus mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja. Kegiatan berlangsung selama Januari hingga Juli 2026 dengan total 60 hari kerja aktif, melibatkan peserta dengan ragam disabilitas seperti tunarungu, tunanetra, dan tunagrahita ringan. Selama pelaksanaan program, mahasiswa terlibat langsung dalam proses pendampingan.
Mereka membantu peserta memahami tahapan pembuatan kopi seperti grinding, tamping, hingga milk frothing. Pendampingan dilakukan secara fleksibel dengan menyesuaikan metode pembelajaran pada kebutuhan masing-masing peserta. “Kami tidak hanya fokus pada kemampuan teknis. Tetapi juga bagaimana peserta bisa lebih percaya diri dan siap menghadapi lingkungan kerja,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Latih Peserta Hadapi Situasi Nyata
Selain keterampilan teknis, mahasiswa juga memberikan pelatihan sederhana terkait pelayanan pelanggan dan komunikasi di tempat kerja. Simulasi ini bertujuan agar peserta lebih terbiasa menghadapi situasi nyata ketika berinteraksi dengan konsumen.
Tidak hanya mendampingi peserta, mahasiswa juga berkontribusi dalam penguatan kapasitas yayasan. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain membantu penerapan pencatatan keuangan berbasis digital serta mendukung promosi produk melalui media sosial. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Secara umum, program ini menunjukkan hasil yang positif. Peserta mengalami peningkatan dalam keterampilan meracik kopi sesuai standar operasional, serta menunjukkan kepercayaan diri yang lebih baik selama sesi praktik. Meskipun terdapat tantangan dalam menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan yang beragam, kegiatan tetap dapat berjalan dengan baik melalui pendekatan yang adaptif.
Program ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Khususnya tujuan 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta tujuan 10 tentang pengurangan kesenjangan. “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang dan mandiri secara ekonomi,” tutup tim mahasiswa.





