Universitas Airlangga Official Website

Sarasehan Ekonomi Hijau bersama Laboratorium Antropologi Manubura FISIP

Tampak foto Bersama seusai acara sarasehan Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab ManuBuRa) Prof. Dr. Mohammad Adib, MA (Tengah Kanan, berjas dan berpeci Batik) warna biru dan para Risearch Asistant (Jongkok Berjaket Almamater Warna Biru) (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Di tengah ancaman degradasi lingkungan yang ditandai dengan tanah longsor di lereng Gunung Bromo, sebuah gerakan kedaulatan ekologi lahir dari tangan warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Melalui inisiatif “Membayar Kuliah dengan Udara”, masyarakat lokal kini memimpin langkah konservasi hutan untuk membangun kemandirian ekonomi dan pendidikan masa depan.

Bekerja sama dengan Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. Manubura) FISIP Universitas Airlangga (UNAIR) serta Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, warga Desa Ngadirejo meluncurkan gagasan Dana Abadi Pendidikan “Putra Putri Peradaban Tengger”. Dana ini bersumber dari monetisasi jasa lingkungan melalui skema kredit karbon (carbon credit) atas penjagaan hutan dan penanaman 10.000 pohon Cemara Gunung.

Kepala Laboratorium Antropologi Manubura FISIP UNAIR, Prof Dr Mohammad Adib MA menekankan bahwa masyarakat adat dan lokal bukanlah objek. Melainkan garda terdepan dalam penyelamatan bumi. Hadir empat research asisten dari Lab. Manubura ini Alya Wafa Indria, Fatimah Azzarah, dan Rafa Ghaniya Nahayasa.

“Hari ini kita membuktikan bahwa kedaulatan ada di tangan warga. Saat masyarakat tahu bahwa setiap pohon Cemara yang mereka jaga adalah biaya kuliah bagi anak cucu mereka, maka perlindungan hutan bukan lagi beban. Melainkan kebutuhan. Inilah cara kita berdikari. Menukar oksigen menjadi ijazah sarjana,” ujar Prof Adib. Ia membuka Sarasehan Ekonomi Hijau di Kantor Sekretariat LMDH Cemara Indah, Sabtu (28/3/2026).

Kegiatan hari ini tidak berhenti pada seremonial. Masyarakat yang tergabung dalam LMDH Cemara Indah dan Satgas Peduli Mata Air Nusantara langsung bergerak memimpin penelitian lapangan di lima pedukuhan dimulai di Dukuh Kletak. Fokus utamanya adalah memetakan dan mengamankan 62 titik mata air yang menjadi nadi kehidupan ribuan jiwa di Pasuruan.

Ketua LMDH Cemara Indah menyatakan bahwa keterlibatan warga dalam menjaga 10.000 bibit Cemara Gunung adalah bentuk “doa” nyata agar alam tidak murka. Dengan skema ekonomi hijau, warga Ngadirejo kini memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk tidak menebang pohon. Yakni karena pohon yang berdiri tegak jauh lebih berharga daripada kayu yang dipotong.

Program ini juga menarik perhatian dunia internasional. Inisiatif dari lereng Bromo ini tengah diajukan sebagai model replikasi ekonomi hijau berbasis komunitas ke tingkat global. Termasuk melalui korespondensi strategis dengan Kedutaan Besar Federasi Rusia.

Melalui sinergi antara sains dari kampus, kebijakan dari otoritas perhutani, dan kekuatan kearifan lokal (indigenous wisdom), Desa Ngadirejo sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia. Bahwa pelestarian hutan dan kesejahteraan rakyat bisa berjalan seiringan tanpa harus saling mengorbankan.

pengukuhan Satgas Peduli Mata Air Provinsi Jawa Timur AM (Aminoto SIP MAP) dan Satgas Peduli Mata Air Desa Ngadirejo (Nia Miftahuz Zainiah) oleh Satgas Peduli Mata Air Nusantara (Guntur Bisowarno SSi Apt). Pengukuhan Satgas didampingi Kepala Lab. Manusia, Budaya, dan Ragawi (Prof Dr Mohammad Adib MA), Kepala Perhutani Divre Jawa Timur diwakilkan kepada Kepala Departemen Perencanaan Divre Jatim (Imam Suyuti SHut MM) dan ADM KPH Pasuruan (Ivan Cahyo Susanto SHut), dan tim Kalpataru Forum Nasional (Benito Lopulalan).

Penulis: Adam Wahyu Saputra