Universitas Airlangga Official Website

Kuliah Tamu Wamenkes: Penanggulangan TB Perlu Libatkan Seluruh Elemen Masyarakat

Rektor Universitas Airlangga, Prof Muhammad Madyan SE MSi MFin, menyampaikan sambutan dalam kuliah tamu Wamenkes bertajuk “Deteksi Dini Tuberkulosis dan Permasalahannya” pada Kamis (21/05/2026) di Hall Dharmawangsa Lantai 8 Rumah Sakit Universitas Airlangga (Foto: PHMP UNAIR)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya eliminasi tuberkulosis (TB) di Indonesia. Komitmen itu dibuktikan melalui penyelenggaraan kuliah tamu bertajuk “Deteksi Dini Tuberkulosis dan Permasalahannya” pada Kamis (21/05/2026) di Hall Dharmawangsa Lantai 8 Rumah Sakit UNAIR. Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr Benjamin Paulus Octavianus, SpP(K) FISR, menjadi narasumber utama dalam kegiatan yang dibuka langsung oleh Rektor Prof Muhammad Madyan SE MSi MFin itu.

Jajaran pimpinan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) turut hadir dalam acara tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Direktur Utama RSUP Surabaya, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development, para Dekan UNAIR, para Direktur Direktorat, jajaran Dewan Pengawas dan Direksi RSUA serta civitas academica dan tenaga kesehatan UNAIR juga hadir sebagai undangan dan peserta kuliah tamu.

Dalam sambutannya, Rektor UNAIR menyampaikan bahwa TB hingga kini masih menjadi salah satu tantangan serius di bidang kesehatan. Baik pada level global maupun nasional. Persoalan tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan aspek medis.

“Pengendalian TB tidak dapat dilakukan secara parsial dan hanya bertumpu pada layanan pengobatan semata. Diperlukan kolaborasi, kepedulian, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar upaya penanggulangan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam memperkuat kesehatan masyarakat melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Pada kesempatan itu, ia mengajak civitas academica dan tenaga kesehatan di lingkungan UNAIR untuk mengambil peran aktif dalam mendukung program eliminasi TB nasional. “Kami berharap civitas academica dan tenaga kesehatan dapat menjadi perpanjangan tangan pemerintah sekaligus ujung tombak dalam mendukung upaya eliminasi TB di Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rektor UNAIR berharap kuliah umum tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait tuberkulosis. “Kami mengharapkan putra-putra terbaik Universitas Airlangga melakukan pengabdian di luar Jawa, mengabdikan dirinya di Papua, di Ambon, di Sulawesi dan sebagainya. Atau misalnya juga di wilayah barat sana. Jangan semuanya berkumpul di Jawa,” tambahnya.

Wamenkes dalam kuliah tamu bertajuk “Deteksi Dini Tuberkulosis dan Permasalahannya” pada Kamis (21/05/2026) di Hall Dharmawangsa Lantai 8 Rumah Sakit Universitas Airlangga (Foto: PHMP UNAIR)

Pada kesempatan yang sama, dr Benjamin Paulus Octavianus, SpP(K) FISR memaparkan secara komprehensif mengenai deteksi dini tuberkulosis beserta berbagai tantangannya di Indonesia. Ia menyebut Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia berdasarkan jumlah kasus TB.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, kasus TB paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Tingginya mobilitas dan interaksi sosial pada kelompok usia kerja dinilai menjadi salah satu faktor utama penyebaran penyakit tersebut.

Ia mengapresiasi capaian Jawa Timur dalam penanganan kontak serumah pasien TB. Dari seluruh anggota keluarga pasien TB yang diperiksa, sekitar 46 persen telah mendapatkan pengobatan. Angka tersebut termasuk yang terbaik secara nasional setelah Provinsi Banten.

Untuk mempercepat eliminasi TB, Kementerian Kesehatan menyiapkan berbagai strategi. Mulai dari penguatan anggaran, pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien terdiagnosis, hingga penyediaan alat skrining berbasis teknologi portable X-ray. Wamenkes menyebut pemerintah menargetkan Jawa Timur memiliki sedikitnya 100 alat skrining TB yang dapat digunakan secara masif di berbagai daerah.

“Alat X-ray-nya portable, bisa dibawa ke mana-mana dan hasilnya langsung keluar. Kalau hasilnya baik dan tidak ada keluhan, pasien langsung mendapat terapi pencegahan TB. Kalau ada keluhan, akan langsung diterapi,” jelasnya.

Ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah masih banyaknya penderita TB laten yang belum terdeteksi dan belum memperoleh penanganan. “Selama ini yang diobati baru yang sakit. Padahal yang tidak bergejala jumlahnya juga tinggi,” katanya.

Dalam paparannya, upaya menemukan kasus TB laten dapat dilakukan melalui investigasi kontak, skrining massal di tempat khusus, hingga pemeriksaan kesehatan rutin. Menurutnya, integrasi pelacakan kasus aktif, penguatan layanan primer, serta pemanfaatan teknologi diagnostik menjadi kunci percepatan eliminasi TB nasional.

“Kolaborasi lintas sektor, penguatan SDM, data yang terintegrasi, dan inovasi nasional menjadi fondasi penting untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh,” pungkasnya.

Penulis: Andi Pramono