Universitas Airlangga Official Website

Tak Sekadar IPK, Serenova Kupas Pentingnya Personal Branding bagi Mahasiswa

Foto bersama pembicara seminar dan peserta Serenova 2026 (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS – Syarat pencapaian akademik dalam Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kini bukan lagi faktor utama dalam menentukan kesuksesan. Keketatan persaingan di dunia industri menuntut mahasiswa untuk memetakan karir sejak awal. Menjawab tantangan tersebut, Kabinet Resonansi Progresif BEM Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan Serenova 2026: Seminar × Talkshow yang berlangsung di Maleo Hall, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. 

Dalam sambutannya, Yafi Salsabila selaku menteri dari Kementerian Pengembangan Profesi menegaskan bahwa kegiatan ini membekali peserta dengan ilmu dan strategi penunjang profesi. “Saya harap teman-teman bisa mendapatkan informasi yang luas mengenai karier dan profesi untuk teman-teman ke depannya,” ujarnya. 

Finalis Duta UNAIR 2023, Priscilla Aluisina Putri W SStat, selaku pembicara menekankan bahwa personal branding bukan sekadar pencitraan. Melainkan praktik strategis untuk mendefinisikan dan mengekspresikan nilai seseorang. Menurutnya, personal branding menjadi aset berharga di era digital saat ini.

Personal branding berkaitan erat dengan bagaimana orang lain mengingat suatu individu. Ini adalah narasi yang anda bangun secara sadar agar publik mengenal keahlian dan nilai unik yang Anda bawa, bahkan saat Anda tidak berada di dalam ruangan tersebut,” ungkap. 

Ia menekankan bahwa personal branding yang efektif harus memenuhi dua aspek utama. Yakni akurasi dan konsistensi. Penyampaian nilai diri secara jujur penting untuk membangun kepercayaan audiens dan relasi industri di masa depan. Sebaliknya, penyampaian yang berlebihan (overclaim) berisiko merusak reputasi profesional. Selain itu, konsistensi terhadap penyampaian tersebut akan membuahkan hasil personal branding yang baik, kredibel, dan terarah.

Melanjutkan pembahasan sebelumnya, Dionisius Alfa Amori Kusuma ST MT memaparkan pentingnya manajemen karier melalui konsep Ikigai. Ia mengaitkan eksplorasi antara minat, kemampuan, dan kebutuhan pasar. Menurutnya, manajemen karier bersifat krusial untuk menghasilkan kesejahteraan secara finansial dan kepuasan batin.

Ia turut mengingatkan kepada peserta bahwa penguasaan keterampilan teknis (hard skills) meliputi; Microsoft Excel untuk pengolahan data, Powerpoint, serta platform kreatif seperti Canva akan relevan dengan kebutuhan kantor modern. Selain aspek teknis, ia menambahkan bahwa soft skills. Seperti berpikir kritis (critical thinking) dan kemampuan pemecahan masalah (problem solving) menjadi faktor penting dalam seleksi industri berskala global. Kemampuan untuk tetap tenang dan fokus mencari solusi di tengah tekanan adalah kompetensi yang dicari oleh perekrut saat ini.

Mahasiswa, harapnya, tidak sekadar terpaku pada angka di transkrip nilai, tetapi juga mulai aktif membangun jaringan (networking) dan memperkuat karakter diri dengan personal branding sebagai calon tenaga kerja profesional. Kesadaran untuk memetakan karir sejak di bangku perkuliahan menjadi bekal untuk menghadapi dinamika industri yang terus berubah. 

“Jadi, teman-teman, setelah sesi ini, saya harap kalian dapat membuat roadmap. Apa yang akan kalian lakukan saat berada di tengah semester atau saat kalian di kampus? Jadi, perhitungan itu untuk memastikan kita semua terarah dan terstruktur,” pungkas Ventures Specialist Ciputra Group tersebut. 

Penulis: Amelia Farah P I

Editor: Yulia Rohmawati