UNAIR NEWS – Penyanyi sekaligus praktisi industri musik tanah air, Ashanti Hastuti SSos MM resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Doktoral pada Rabu (13/5/2026). Sidang terbuka ini berlangsung di Ruang Ujian Doktor Terbuka, Lantai 2 Sekolah Pascasarjana, Kampus B Universitas Airlangga.
Agenda akademik tersebut dihadiri secara langsung oleh jajaran senat akademik, tim promotor, serta keluarga tercinta. Riset doktoral Ashanty ini berangkat dari pengamatan mendalam mengenai disrupsi digital yang mengubah total lanskap ekosistem musik nasional serta dampaknya terhadap keberlangsungan karya para musisi senior.

Tantangan Akademik dan Motivasi Belajar Lintas Usia
Menyelesaikan studi doktoral di tengah kesibukan sebagai praktisi industri musik dan ibu rumah tangga mendatangkan tantangan tersendiri bagi Ashanty. Ia mengakui bahwa proses penyusunan hingga mempertahankan disertasi ini dipenuhi dengan tekanan mental dan rasa panik yang tinggi sebelum menghadapi setiap tahapan ujian. “Jujur, saya setakut dan sepanik itu. Setiap kali mau ujian, saya sering stres seharian,” ungkap Ashanty.
Meski harus menghadapi kendala pikiran akibat beban kerja yang berlapis, Ashanty menegaskan bahwa menuntut ilmu tidak mengenal batasan usia. Ia tetap semangat mengejar S3 dengan tidak melupakan mengejar S1 lagi, menunjukkan bahwa ia tidak pernah berhenti untuk belajar.

Strategi Adaptasi Musisi Senior Menghadapi Hegemoni Digital
Inti dari penelitian ini menghasilkan sebuah rumusan komparatif mengenai bagaimana para pelaku industri musik dari generasi terdahulu merespons kemajuan teknologi. Penelitian ini menyoroti bahwa musisi senior yang mampu bertahan di era digital bukanlah mereka yang sepenuhnya tunduk pada sistem komputasi, melainkan mereka yang mampu menegosiasikan logika digital dengan esensi karya seni manusia.
“Adaptasi ini sangat ditentukan oleh kemampuan seorang seniman dalam bernegosiasi antara tuntutan sistem digital saat ini. Jadi bagaimana mereka bisa adaptasi, tapi mereka juga tidak harus benar-benar mengerti teknologi yang ada saat ini,” jelasnya di hadapan para penguji.
Rencana Hilirisasi Riset dan Advokasi Hak Cipta
Guna memastikan hasil penelitian ini tidak sekadar menjadi dokumen akademis yang tersimpan di perpustakaan, Ashanty telah merancang langkah implementasi nyata sebagai bentuk hilirisasi riset. Ia menegaskan komitmennya sebagai pelaku industri untuk tidak membiarkan hasil kerja kerasnya ini menjadi pasif.
“Saya sudah berdarah-darah dan lelah berjuang sampai di titik ini. Saya tidak mau disertasi ini hanya menumpuk dan berdebu di perpustakaan. Kita harus berguna dengan apa yang sudah kita perjuangkan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjabarkan rencana aksi nyata yang akan segera ditempuhnya setelah resmi menyandang gelar doktor ini. “Tapi kalau jangka pendek mungkin akan meminta pemerintah untuk hak cipta ya, karena hak cipta ini penting banget. Terutama Baby Boomers dan di atasnya, sampai hari ini memerlukan hak-hak dan transparansi dari lembaga. Bekerja sama dengan pemerintah untuk merealisasikan ini itu penting,” pungkas Ashanty mengenai target terdekatnya.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





