UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Airlangga Global Engagement (AGE) bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) sukses menyelenggarakan D-8 Youth Dialogue bertajuk Navigating Uncertainty, Building Resilience pada Rabu (3/6/2026). Acara di Majapahit Hall Kampus MERR-C UNAIR ini menghadirkan Pakar Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR Dr Rian Diana SP MSi dan Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial, Budaya, dan Pengembangan Masyarakat, Kamapradipta Isnomo.
Enam Pilar Ketahanan Pangan dan Peran Mahasiswa
Dr Rian Diana SP MSi menjelaskan, konsep multidimensi pangan yang tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang konsumsi atau pertanian saja. Melainkan harus melibatkan kebijakan lainnya. “Ketika kita berbicara tentang ketahanan pangan, ada enam pilar yang harus terpenuhi secara menyeluruh. Yaitu ketersediaan (availability), akses (access), pemanfaatan (utilization), stabilitas (stability), agensi (agency), dan keberlanjutan (sustainability),” paparnya.
Ia kemudian menyoroti kontradiksi besar antara performa ketersediaan pangan Indonesia yang cukup baik dengan tingginya ketergantungan pasar global, serta minimnya kesiapan dalam menghadapi dampak perubahan iklim. “Meskipun tempe adalah warisan budaya kita, lebih dari 90 persen kedelai yang kita gunakan adalah hasil impor. Kita memang memiliki performa baik dalam ketersediaan pangan dan mampu bertahan saat krisis. Namun kita masih sangat kekurangan dalam hal keberlanjutan dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” ungkapnya.
Melihat tantangan itu, Dr Diana mendorong mahasiswa lintas disiplin ilmu UNAIR untuk mengambil peran aktif melalui keahlian bidangnya. Termasuk dalam memberikan solusi. “Mahasiswa pertanian, komunikasi, maupun teknik bisa berkontribusi mengatasi masalah struktural, seperti membuat petani menjadi lebih bankable. Selain itu, saat harga daging sedang melonjak tinggi, kalian yang di bidang komunikasi bisa menjadi komunikator untuk mengedukasi warga agar menggantinya dengan telur atau ayam. Nutrisinya sama saja, jadi tidak masalah selama kita memiliki literasi gizi yang baik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kontribusi nyata terhadap lingkungan tidak harus menunggu kebijakan yang rumit. Melainkan bisa terwujud lewat tindakan sederhana di meja makan. “Pilar agensi dan keberlanjutan ini sebenarnya sangat mudah. Cukup habiskan makananmu dan bersihkan piringmu karena sampah pangan (food waste) adalah salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca,” ucapnya.
Kontekstualisasi Diplomasi dan Ekosistem Halal D-8
Kamapradipta Isnomo melengkapi diskusi dengan mengingatkan pentingnya kemandirian pangan nasional di tengah proteksionisme global. Belajar dari era pandemi, setiap negara akan bersikap inward-looking saat krisis terjadi. “Di masa krisis, negara asing pasti memprioritaskan populasinya sendiri seperti era vaksin COVID-19 dahulu. Oleh karena itu, pangan bukan lagi hanya tentang memberi makan, melainkan tentang menjaga stabilitas, martabat, dan kesejahteraan bersama,” kata Kamapradipta.

Ia juga mendorong penguatan kerja sama ekonomi antar negara anggota D-8 yaitu aliansi delapan negara berkembang berpenduduk mayoritas muslim. Termasuk Indonesia yang memiliki pasar masif sebesar 1,3 miliar jiwa dengan mengoptimalkan potensi industri halal global. “Keunggulan terbesar D-8 adalah ekosistem halal. Halal bukan lagi sekadar isu agama. Melainkan jaminan keamanan, kualitas, dan kepercayaan konsumen yang memberikan multiplier effect besar bagi UMKM,” terangnya.
Pada akhir, Kamapradipta mengajak generasi muda UNAIR untuk mengambil peran nyata dalam diplomasi ekonomi ini. “Masa depan ketahanan pangan global berada di tangan generasi muda. Melalui forum dan kolaborasi seperti ini, kami berharap pemuda UNAIR dapat melahirkan inovasi digital dan semangat kewirausahaan yang mampu membawa ekosistem halal kita bersaing di panggung internasional,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Yulia Rohmawati





