Potret Abdullah Muhammad Irsyad Syafiuddin
Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (FIB UNAIR), Abdullah Muhammad Irsyad Syafiuddin, kembali memenangkan kompetisi dalam dunia kepenulisan. Kali ini, ia berhasil menjadi juara tingkat pertama Esai LOFest 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Otonom Fakultas Adab dan Humaniora, Uin Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu (27/05/2026).
Perjuangan di Balik Layar
Irsyad menjelaskan bahwa ide yang ia bawa tersebut membahas teknologi autoteks pada keyboard yang dapat mengurangi tingkat orisinalitas dari bahasa daerah. Hal ini ia dapati ketika membaca unggahan pengguna Twitter yang mengeluhkan permasalahan yang sama. “Aku berangkat dari salah satu postingan di Twitter gitu. Dia memposting bahwasanya dia itu kesel banget gara-gara keyboardnya ini pas mau ngetik pakai bahasa Jawa otomatis jadi kata-kata yang lain,” ucapnya.
Mengangkat karya yang berfokus pada aspek kesusasteraan, Ia menjawab mengenai hambatan yang ia alami selama menulis karya. Latar belakang Irsyad yang bukan berasal dari dunia sastra atau bahasa menciptakan tantangan tersendiri selama ia menyusun karya tulis. Namun, irsyad segera menemukan solusi atas permasalahan tersebut; “Aku berusaha mengangkat keresahan orang-orang aja, terus aku cari argumen-argumen ilmiahnya, gitu aja sih,” tambahnya.
Selain itu, tantangan membagi fokus waktu untuk meningkatkan performa akademik dan mengembangkan ide yang telah Irsyad dapati turut menjadi perhatian khusus baginya. Menurutnya, mengerjakan tugas kelompok yang mengharuskan penyesuaian waktu dari rekan tim menjadikannya sebagai tantangan tersendiri sehingga ia enggan untuk melakukan kebiasaan menunda. “Aku nggak mau menunda-nunda gitu aja, sih. Mungkin cara mengelola waktu juga seperti skala prioritas hal-hal basic,” tegasnya.
Refleksi Kemenangan, Dampak, dan Motivasi
Irsyad mengatakan bahwa portofolio kemenangan yang telah ia dapati tersebut bersumber dari motivasinya yang berkeinginan untuk melanjutkan studi lanjut di luar negeri. “Jadi, buatku sendiri itu mungkin bentuk langkah kecilku untuk mencapai tujuan utamaku,” tambahnya.
Iklim kompetisi dan akademis yang masih terbatas di lingkungan sekitar mendorong Irsyad untuk terus mengembangkan potensinya di luar. Ia mengatakan bahwa kegiatan di dunia perkuliahan yang monoton membuatnya harus memanfaatkan berbagai peluang dan potensi yang ada diluar sana. “Mending jadi ikan kecil di kolam yang besar daripada jadi ikan besar di kolam yang kecil,” tegasnya.
Menutup perbincangan, Irsyad berharap melalui kegiatan Scientific Writing dalam Klinik Ilmiah yang diselenggarakan oleh Kementerian Akademik dan Prestasi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya mendatang dapat menjadi langkah awal yang baik untuk melanjutkan tonggak prestasi. “Jadi semoga banyak yang daftar dari teman-teman FIB biar kita bisa membuat ekosistem akademik kita itu bener-bener yang baik,” pungkasnya.
Pencapaian ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Bahrul Ulum Assiddiqi
Editor: Pudja Safana Dwi Putri




