Universitas Airlangga Official Website

Musim Kemarau Datang, Waspadai Heat Stress pada Ternak

Musim kemarau yang mulai berlangsung di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya berdampak pada ketersediaan air dan sektor pertanian, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi sektor peternakan. Salah satu masalah yang sering luput dari perhatian adalah heat stress atau stres panas pada ternak. Kondisi ini sering dianggap sebagai hal biasa karena Indonesia merupakan negara tropis, padahal dampaknya dapat menurunkan produktivitas ternak secara signifikan sekaligus mengganggu kesejahteraan hewan (animal welfare).

Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan suhu lingkungan akibat perubahan iklim semakin memperbesar risiko terjadinya heat stress. Ternak yang dipelihara pada lingkungan bersuhu tinggi akan mengalami kesulitan menjaga keseimbangan suhu tubuhnya. Ketika panas yang diterima tubuh lebih besar dibandingkan kemampuan tubuh untuk melepaskannya, maka ternak akan mengalami stres fisiologis yang berujung pada penurunan performa produksi.

Menurut Collier et al. (2019), heat stress merupakan salah satu faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap produktivitas ternak di daerah tropis dan subtropis. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan pada hewan, tetapi juga mengganggu fungsi metabolisme, reproduksi, dan sistem imun.

Dampak Stress Panas pada Ternak

Pada sapi perah, dampak heat stress sering terlihat dari penurunan produksi susu. Saat suhu lingkungan meningkat, sapi cenderung mengurangi konsumsi pakan untuk menekan produksi panas metabolik dalam tubuh. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk produksi susu berkurang. Selain kuantitas susu yang menurun, kualitas susu juga dapat terdampak akibat perubahan metabolisme selama periode stres panas.

Sementara itu, pada sapi potong, heat stress menyebabkan penurunan pertambahan bobot badan harian (average daily gain). Ternak menjadi lebih banyak berdiri, tampak lesu, dan mengurangi aktivitas makan. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat masa pemeliharaan menjadi lebih lama dan biaya produksi meningkat.

Dampak lain yang sering tidak disadari peternak adalah gangguan reproduksi. Menurut Hansen (2009), suhu lingkungan yang tinggi dapat menurunkan efisiensi reproduksi sapi melalui gangguan siklus estrus, penurunan tingkat kebuntingan, hingga meningkatnya kematian embrio dini. Pada pejantan, stres panas juga dapat menurunkan kualitas semen sehingga memengaruhi keberhasilan program pembibitan maupun inseminasi buatan.

Ketidaknyamanan Fisik Berlebihan

Selain aspek produktivitas, heat stress juga berkaitan erat dengan kesejahteraan hewan. World Organisation for Animal Health menegaskan bahwa hewan harus terbebas dari ketidaknyamanan fisik yang berlebihan sebagai bagian dari prinsip kesejahteraan hewan. Lingkungan yang terlalu panas tanpa akses terhadap tempat berteduh, air minum yang cukup, dan ventilasi yang baik dapat menyebabkan penderitaan serta menurunkan kualitas hidup ternak.

Dalam konsep kesejahteraan hewan modern, keberhasilan peternakan tidak lagi hanya diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari kemampuan peternak menyediakan lingkungan yang mendukung kebutuhan biologis ternak. Oleh karena itu, pencegahan heat stress menjadi bagian penting dalam penerapan good farming practices.

Perhatikan Kenyamanan dan Kebersihan Kandang

Di Indonesia, tantangan terbesar justru banyak ditemukan pada peternakan rakyat atau peternakan skala kecil. Sebagian besar peternak masih menggunakan kandang sederhana yang dibangun berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa mempertimbangkan faktor mikroklimat kandang. Atap berbahan seng tanpa pelindung panas, ventilasi yang kurang baik, serta minimnya area teduh sering menyebabkan suhu kandang meningkat drastis pada siang hari.

Padahal, solusi untuk mengurangi heat stress tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Untuk peternak skala rumahan, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah memastikan ketersediaan air minum bersih sepanjang hari. Air memiliki peran penting dalam membantu proses termoregulasi tubuh dan mencegah dehidrasi yang dapat memperparah stres panas.

Selain itu, peternak dapat menanam pohon peneduh di sekitar kandang guna mengurangi paparan radiasi matahari secara langsung. Penggunaan atap berbahan yang tidak mudah menyerap panas, seperti genteng atau atap yang dilengkapi lapisan insulasi sederhana, juga dapat membantu menurunkan suhu lingkungan kandang.

Ventilasi kandang perlu diperhatikan dengan memastikan adanya sirkulasi udara yang baik. Pada beberapa peternakan rakyat, pemasangan kipas angin sederhana terbukti membantu meningkatkan aliran udara dan mengurangi akumulasi panas di dalam kandang. Penyesuaian waktu pemberian pakan juga dapat menjadi strategi efektif. Pakan sebaiknya diberikan pada pagi dan sore hari ketika suhu lingkungan lebih rendah sehingga konsumsi pakan tetap optimal.

Menurut Nardone et al. (2010), strategi adaptasi terhadap perubahan iklim di sektor peternakan harus difokuskan pada manajemen lingkungan dan peningkatan kesejahteraan hewan karena kedua faktor tersebut berkontribusi langsung terhadap produktivitas ternak. Dengan kata lain, investasi pada kenyamanan hewan sebenarnya merupakan investasi untuk menjaga keuntungan peternak dalam jangka panjang.

Di tengah tren peningkatan suhu global dan musim kemarau yang semakin panjang, heat stress tidak lagi dapat dianggap sebagai masalah musiman biasa. Kondisi ini merupakan tantangan nyata yang memengaruhi kesehatan, reproduksi, produktivitas, dan kesejahteraan ternak secara bersamaan. Oleh karena itu, edukasi kepada peternak mengenai manajemen lingkungan kandang perlu terus ditingkatkan agar sektor peternakan Indonesia mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Pada akhirnya, upaya mencegah heat stress bukan hanya bertujuan menjaga produksi susu atau pertambahan bobot badan ternak. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dalam mewujudkan peternakan yang produktif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan hewan. Ternak yang sehat dan nyaman akan memberikan performa terbaiknya, sementara peternak memperoleh manfaat ekonomi yang lebih optimal di tengah tantangan iklim yang terus berubah.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir (Mahasiswa S1 Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR)

Daftar Pustaka

Collier, R. J., Baumgard, L. H., Zimbelman, R. B., & Xiao, Y. (2019). Heat Stress: Physiology of Acclimation and Adaptation. Animal Frontiers, 9(1), 12–19.

Hansen, P. J. (2009). Effects of Heat Stress on Mammalian Reproduction. Philosophical Transactions of the Royal Society B, 364(1534), 3341–3350.

Nardone, A., Ronchi, B., Lacetera, N., Ranieri, M. S., & Bernabucci, U. (2010). Effects of Climate Changes on Animal Production and Sustainability of Livestock Systems. Livestock Science, 130(1–3), 57–69.

Renaudeau, D., Collin, A., Yahav, S., de Basilio, V., Gourdine, J. L., & Collier, R. J. (2012). Adaptation to Hot Climate and Strategies to Alleviate Heat Stress in Livestock Production. Animal, 6(5), 707–728.

World Organisation for Animal Health (WOAH). (2025). Terrestrial Animal Health Code: Animal Welfare and Livestock Production Systems. Paris: WOAH.

Yousef, M. K. (Ed.). (1985). Stress Physiology in Livestock Volume I: Basic Principles. Boca Raton: CRC Press.