UNAIR NEWS – Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Laboratorium Manusia Budaya dan Ragawi (Lab MaBuRag) meluncurkan Riset Kolaborasi (Riskolab) Jatim Melaju 2026 di Desa Ngadirejo Pasuruan pada (10/07/2026). Agenda strategis bersama Kepala Desa Muliono, Sekretaris Desa Willy Morten, dan budayawan Yohanes Kurniawan, ini berfokus pada hilirisasi ekonomi hijau pelestarian ekologi mata air serta peningkatan mutu pendidikan warga.
Laboratorium Solusi Antropologi UNAIR
Tim Riskolab Jatim Melaju 2026 dipimpin oleh host peneliti UNAIR Prof Dr H Muhammad Adib Drs MA bersama mitra peneliti dari UIN Kediri dan UIN Tulungagung. Sinergi lintas institusi ini dijalankan dalam upaya mengembangkan model hilirisasi ekonomi hijau berbasis kearifan lokal masyarakat Bromo Tengger.
“Kami ditugasi agar melalui kolaborasi ini menjadikan desa sebagai laboratorium solusi dengan fokus bagaimana sumber daya alam dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” tutur Adib.
Program pengabdian masyarakat ini diarahkan untuk menghasilkan solusi riil bagi problematika lingkungan hidup di pedesaan sekitar kawasan hulu Bromo. Desa Ngadirejo akan dijadikan sebagai pusat inovasi dalam pemanfaatan potensi lokal secara optimal demi mendukung kemandirian ekonomi jangka panjang.
“Fokus utama kami adalah bagaimana sumber daya alam ini dapat memberikan manfaat langsung. Termasuk mendukung program beasiswa bagi generasi muda desa melalui hilirisasi ekonomi hijau,” tegas Adib.
Merawat Tradisi di Tengah Modernisasi
Pemerintah desa menyambut baik kolaborasi lintas kampus ini demi menjaga keberlanjutan alam dan tradisi lokal dari tantangan modernisasi. “Kami selaku pemerintah desa tetap semangat untuk mendukung apa yang menjadi keinginan para Profesor ini terutama terkait sumber mata air yang selama ini kita pertahankan agar alam bisa bersatu dengan manusia,” ujar Muliono.
Pemerintah desa mencatat adanya enam puluh dua titik mata air belum terdokumentasikan resmi yang memerlukan regulasi perlindungan hukum hasil riset ini. “Dengan hadirnya Prof Adib, Prof Asror, dan tim peneliti di sini saya berharap nanti ketika penelitian ini selesai paling tidak ada aturan yang bisa mengakomodasi bagaimana kita tetap bisa mempertahankan mata air ini,” jelasnya
Tokoh masyarakat setempat menambahkan bahwa potensi puluhan sumber mata air tersebut juga menyimpan nilai budaya serta spiritualitas Tengger. Potensi bernilai luhur ini sangat adaptif untuk dikembangkan menjadi sektor wisata edukasi kesehatan maupun religi. “Tempat-tempat ini sebenarnya bisa dimanfaatkan tidak hanya bicara tentang menjaga air tetapi juga menjadi tempat yang memberi ketenangan jiwa dan itu yang menjadi nilai kearifan lokalnya,” pungkasnya
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D, Nasywa Kaffa
Editor: Yulia Rohmawati





