Universitas Airlangga Official Website

Modifikasi Kandungan Protein Dedak Padi untuk Meningkatkan Fekunditas dan Produksi Anak M Macrocopa

Ilustrasi oleh Jual Dedak Padi Sidoarjo

Indonesia memiliki banyak spesies zooplankton yang  dapat  menjadikan Indonesia  sebagai  negara  yang berdikari  dalam akuakultur.    Moina  macrocopa  adalah  zooplankton yang berukuran ±400-2000um  dengan nilai gizi yang tinggi  (protein 50-60%),  sebanding dengan gizi  Artemia. Kepadatan populasi dalam budidaya M. macrocopa  bervariasi dikarenakan   belum adanya standarat  kandungan protein  dalam  pakan. Menurut Lopatina (2012), kualitas dan kuantitas pakan adalah salah satu faktor yang penting dalam budidaya M. macrocopa.  Protein adalah salah satu faktor nutrisi yang mempengaruhi pertumbuhan populasi, fekunditas, perkembangan embrio dan anak M. macrocopa.

Budidaya M. macrocopa  telah dilakukan  menggunakan pakan dedak padi  (Mubarak etal., 2019). Dedak  padi adalah limbah pertanian memiliki kandungan protein (11-13%) dan lemak (16-20%)  vitamin, mineral  yang  dibutuhkan oleh M macrocopa (Hadipernata dkk., 2012). M. macrocopa  yang dibudidayakan  menggunakan pakan dedak memproduksi anak sebanyak 8-12 ind/induk,  dan masih  dibawah  fekunditas dan produksi  anak  tertinggi sebanyak 37 telur/induk (Rietzler et al. 2014).

Peningkatan protein dedak padi dalam penelitian ini   dilakukan  dengan  mensubstitusi dengan tepung ISP (Isolated soy protein) , dimana  ISP memiliki kandungan protein 90%)(Koswara, 1995). Peningkatan  kandungan  protein  dalam suspensi dedak  mempengaruhi   fekunditas dan produksi anak M.macrocopa.  dedak padi  dengan  konsentrasi protein pakan 44,9.% menghasilkan    fekunditas 30.25 ± 0.95 telur/ induk   dan   produksi  anak  tiasp kelahiran sebanyak 28.5 ± 0.57 ind/induk.

Penulis: Ahmad Shofy Mubarak

Sumber: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/718/1/012094

Manipulation the protein concentration in rice bran suspension toward fecundity and production of offspring M. macrocopa. L Wahyuningtiyas1 , A S Mubarak2,3 and L A Sari3