UNAIR NEWS – Fakultas Farmasi Universitas Airlangga kembali mengadakan kegiatan rutin Pengabdian Masyarakat. Kegiatan itu di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM). Airlangga Community Development Hub (ACDH) 2023 kembali hadir dengan mengusung tema “Pengembangan Desa Gili Iyang sebagai Penghasil Produk Kelor dan Anggur Laut untuk Penguatan Blue-Green Economy & Health”.
Ketersediaan yang melimpah anggur laut menjadi inspirasi untuk bisa memberdayakan masyarakat melalui potensi yang ada. Tak kalah penting, kegiatan itu juga menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) pilar ketiga “Good Health and Well Being”. Selain itu juga pilar kedelapan “Decent Work and Economic Growth” terutama di masyarakat 3T.
Kegiatan ACDH Gili Iyang langsung Dekan FF UNAIR Prof apt Junaidi Khotib SSi MKes PhD buka beserta jajarannya. Rombongan itu mendapat sambutan baik dari Kepala Sekretaris Desa Banraas beserta masyarakatnya.
Terdapat 14 pasukan dari FF UNAIR yang terjun ke Gili Iyang, pasukan yang hadir tidak hanya dosen namun juga mahasiswa S1 dan mahasiswa S2. Masyarakat yang berpartisipasi tidak hanya orang tua namun juga berasal dari siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Jangkau Dua Kawasan
Ada 2 kawasan yang terjangkau yaitu wilayah Desa Banraas dan Desa Bancara, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Gili Iyang Madura. Pada pembukaan acara ini Prof. Junaidi Khotib menerangkan bahwasannya kegiatan itu dapat menjadi pelatihan bagi masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
“Kegiatan ini juga dapat terimplementasikan dan dapat meningkatkan hasil ekonomi masyarakat Gili Iyang,” jelasnya.
Di Balai Desa Banraas, pelopor kegiatan Prof apt Rr Retno Widyowati SSi MPharm PhD bersama mahasiswa memberikan pelatihan pengolahan anggur laut. Sebelumnya, Prof Retno memaparkan kepada masyarakat terkait kandungan dan manfaat anggur laut bagi kesehatan.
Pada umumnya di Desa Banraas sendiri anggur laut hanya dikonsumsi segar tanpa diolah. Masyarakat mengaku bahwa setiap air surut mereka selalu berburu anggur laut dan mengkonsumsinya secara mentah sebagai urap dengan sambal.
Kemudian, inovasi berupa roll candy dan rempeyek anggur laut dikenalkan kepada masyarakat. Tentu saja pelatihan ini menggunakan peralatan yang sederhana dan tanpa listrik mengingat di sana ketersediaan listrik sangat terbatas.
Respon masyarakat sangat antusias dalam menerima materi dan melakukan pelatihan ini. Masyarakat bergantian untuk mencoba membuat, bahkan sangat interaktif untuk bertanya dan menjawab.
Kegiatan berjalan dengan sukses dan lancar. Masyarakat sangat berterimakasih atas ilmu dan pengalaman yang diberikan. Bahkan salah satu perwakilan masyarakat mengaku kegiatan ini sangat perlu dan berharap FF UNAIR dapat terus berkunjung melaksanakan kegiatan ini.
Penulis: Tim Pengmas FF UNAIR





