UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan Airlangga Community Development Hub (ACDH). Program tersebut terlaksana pada Sabtu-Minggu (18-19/10/2025) di Desa Wringinputih dan Desa Kalipait, Kabupaten Banyuwangi. Pengabdian tersebut bertujuan untuk mengembangkan potensi lokal masyarakat terutama di kawasan pesisir. Upaya tersebut dilakukan melalui serangkaian pelatihan dan pendampingan yang melibatkan berbagai fakultas dan lembaga di lingkungan UNAIR.
Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Di mana civitas academica UNAIR berkolaborasi langsung dengan masyarakat untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan. Program yang berjalan lancar ini harapannya dapat membawa kebermanfaatan dan menjadi berkah bagi masyarakat setempat serta memperkuat peran UNAIR sebagai agen perubahan.
Dr Almando Geraldi, selaku koordinator kegiatan ACDH ini menyampaikan, bahwa ACDH Banyuwangi dirancang untuk pengembangan potensi masyarakat di kawasan pesisir. Terutama terkait blue economy dan konservasi serta pariwisata berkelanjutan. Hal ini selaras dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Secara spesifik, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 14 (Ekosistem Lautan), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Fokus pada Potensi Agraria dan Kelautan di Desa Wringinputih
Di Desa Wringinputih, yang memiliki potensi pesisir dan pertanian, UNAIR memfokuskan program pada dua sektor utama. Tim UNAIR terdiri dari FST, FTMM, Pusat Unggulan IPTEK-Perguruan Tinggi Pusat Riset Rekayasa Molekul Hayati (BIOME) UNAIR yang diwakili Prof Ni’matuzahroh dan Dr Fatimah. Mereka memberikan pelatihan intensif mengenai pembuatan pupuk hayati. Pelatihan ini bertujuan untuk mendorong praktik pertanian yang ramah lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga dapat meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.

Sementara itu, tim dari FPK memberikan pendampingan dalam pembuatan dan pengemasan produk olahan seafood. “Kami tidak hanya mengajarkan cara mengolah hasil laut agar memiliki nilai jual lebih tinggi, tetapi juga bagaimana mengemasnya secara modern dan higienis agar bisa menembus pasar yang lebih luas,” ujar Dr Eng Sapto Andriyono, dosen pendamping dari FPK. Inisiatif ini harapannya dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga nelayan di desa tersebut.
Menggali Potensi Ekowisata di Desa Kalipait
Berbeda dengan Wringinputih, program di Desa Kalipait lebih difokuskan pada pengembangan sektor pariwisata. Tim dari Fakultas Vokasi (FV) memberikan pelatihan komprehensif yang mencakup teknik pemanduan wisata, cara membuat paket wisata yang menarik, hingga mitigasi dan pencegahan cedera saat melakukan wisata trekking.
“Potensi alam di Kalipait sangat luar biasa terutama karena berbatasan dengan Taman Nasional Alas Purwo. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat, khususnya para pemuda, mampu menjadi pemandu wisata profesional yang tidak hanya menunjukkan keindahan alam. Tetapi juga mampu menjamin keselamatan wisatawan,” jelas Dr Yuniawan Heru Santoso, koordinator kegiatan dari Vokasi.
Kegiatan ini diperkuat oleh tim FST yang diwakili Dr Moch Affandi bersama Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) dengan Kelompok Studi PEKSIA yang berfokus pada aspek edukasi dan konservasi. Mereka membimbing masyarakat dengan pembuatan media edukasi mengenai pentingnya konservasi dan fungsi ekologis avifauna (dunia burung) di kawasan tersebut. Hal ini sejalan dengan pengembangan ekowisata yang berbasis pada pendidikan lingkungan.
Sinergi dan Kolaborasi Lintas Sektor
Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Sinergi yang kuat terjalin antara UNAIR dengan Pengelola Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI) serta BISA Indonesia. Dukungan penuh juga datang dari kepala desa, perangkat desa, serta partisipasi aktif masyarakat Desa Wringinputih dan Kalipait.
Kegiatan ini juga mendapat warna internasional dengan keikutsertaan mahasiswa pertukaran asing dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Kehadiran mereka memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan bertukar budaya.
General Manager Geopark Ijen, Abdillah Baraas, berterima kasih kepada UNAIR akan kegiatan ACDH ini. Ia berharap kegiatan ini dapat berlanjut terus karena mendukung pilar UNESCO Geopark dari sisi konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Para petani dan ibu-ibu perajin makanan ringan dari Desa Wringinputih juga mendukung keberlanjutan program ini, terutama untuk mendukung otomatisasi pertanian dan pemasaran produk. Kegiatan ACDH ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dapat mengakselerasi pembangunan daerah secara efektif dan berkelanjutan.
Penulis: Tim ACDH
Editor: Yulia Rohmawati





