Universitas Airlangga Official Website

Akumulasi dan Depurasi Kadmium dan Seng pada Jaringan Ikan Nila Setelah Paparan Sublethal

Foto by Detik com

Logam berat adalah elemen langka yang terdapat secara alami di badan air; meskipun demikian, kadarnya meningkat, khususnya di tempat-tempat dengan aktivitas industri, pertanian, dan pertambangan yang tinggi (Kalay dan Canli 2000). Konsentrasi Zn di air tawar berkisar dari 0,018 mg L-1 dalam air yang tidak tercemar hingga 5,7 mg L-1 dalam air yang tercemar (Fu et al. 2016), sedangkan konsentrasi Cd berkisar dari 0,003 mg L-1 dalam air yang tidak tercemar hingga 0,245 mg L-1 dalam air yang tercemar (Adesiyan et al. 2018). Hewan air dapat mengalami konsentrasi logam berat yang signifikan karena sebagian besar logam berat yang masuk ke lingkungan berakhir di fase akuatik. Akumulasi logam esensial dan non-esensial, dalam jaringan spesies air dapat berbahaya jika konsentrasinya mencapai tingkat kritis. Akibat toksik terjadi ketika proses ekskresi, penyimpanan, detoksifikasi, dan metabolisme tidak lagi mampu menahan absorpsi (Kalay dan Canli 2000). Kemampuan ini, bagaimanapun, bervariasi tergantung pada spesies dan logam yang terlibat (Cinier et al. 1999; Kalay dan Canli 2000). Paparan logam berat pada ikan dapat memiliki berbagai efek negatif, termasuk perubahan respirasi (Shaffi et al. 2001), gangguan osmoregulasi (McGeer et al. 2000), perubahan hematologi (Handayani et al. 2020) dan gangguan aktivitas enzim (Ma’rifah dkk. 2019).

Distribusi logam di berbagai jaringan dan/atau organ berbeda berdasarkan sumber asupan dari makanan dan/atau air (Cinier et al. 1999). Makanan tampaknya menjadi sumber utama asupan Cd dalam usus ikan trout pelangi (Handy 1992a), sedangkan Cd dalam air tampaknya memainkan peran penting dalam penyerapan Cd insang ikan pelangi (Handy 1992b). Terlepas dari cara paparan, Cd ditemukan dalam jumlah besar di insang, hati, dan ginjal (Cinier et al. 1999). Ada penelitian sebelumnya yang sangat terbatas menyelidiki akumulasi logam di otot ikan, akumulasi logam di otot ikan mungkin sangat penting untuk kesehatan. Ikan merupakan sumber makanan yang penting serta komponen ekologi, jadi sangat penting untuk melihat efek logam pada ikan.

Dalam metabolisme logam, bioakumulasi dan eliminasi adalah dua aspek yang paling penting. Pola bioakumulasi logam pada organ ikan dapat digunakan sebagai penanda pencemaran logam yang efisien pada beberapa kondisi (Larsson et al. 1985). Selanjutnya, akumulasi logam dalam jaringan tertentu juga diidentifikasi sebagai indikator signifikan dari paparan jangka panjang (Bergman dan Dorward-King 1997). Durasi, suhu, interaksi zat, ukuran ikan, metabolisme, dan waktu paruh biologis logam adalah semua elemen yang mempengaruhi penghilangan logam dari jaringan ikan (Kim et al. 2004).

Di Indonesia, ikan nila Oreochromis niloticus merupakan ikan pangan populer yang banyak dibudidayakan di tambak (Handayani et al. 2020). Membandingkan akumulasi dan depurasi logam esensial dan non-esensial dalam ikan ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta kesehatan manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi akumulasi dan depurasi logam esensial Zn dan logam non-esensial Cd dalam jaringan O. niloticus seperti insang, hati, dan otot setelah dipapar pada kadar sub-letal logam tersebut.

Oreochromis niloticus menjadi sasaran penelitian pengaruh konsentrasi Cd dan Zn sub-letal selama 14 hari untuk mengevaluasi akumulasi mereka di insang, hati, dan otot. Setelah itu, ikan ditempatkan di air yang tidak terkontaminasi selama 7 hari untuk memungkinkan logam dikeluarkan dari jaringan. Insang memiliki faktor biokonsentrasi tertinggi untuk Cd dan Zn. Insang menunjukkan tingkat akumulasi Cd tertinggi, dan otot menunjukkan yang terendah. Otot memiliki tingkat depurasi Cd tertinggi, sedangkan hati memiliki yang terendah. Hati menunjukkan tingkat akumulasi Zn tertinggi, sedangkan insang dan otot memiliki nilai yang hampir sama. Tingkat depurasi Zn sangat konsisten di semua jaringan.

Penulis: Agoes Soegianto, Astrini Widyanita, M. Affandi, Teguh Wirawan, Radin Maya Saphira Radin Mohamed

Jurnal: Bulletin of Environmental Contamination and Toxicology (2022) 109:464–469

Website: https://doi.org/10.1007/s00128-022-03504-8