Universitas Airlangga Official Website

Alumni FIB UNAIR Dirikan Roemadjiwa, Pacu Literasi dan Ubah Pola Pikir Pemuda di Kubu Raya

Nurul Kurniasari, alumni FIB UNAIR Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus Founder Roemadjiwa (Foto: Istimewa)
Nurul Kurniasari, alumni FIB UNAIR Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus Founder Roemadjiwa (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Lulus dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) pada tahun 2020 di tengah pandemi, membawa Nurul Kurniasari, pada sebuah perjalanan tak terduga. Kondisi dunia tak menentu sempat membuatnya berdiam diri sejenak, hingga memutuskan untuk pindah ke Kalimantan Barat. Awal 2021, Alumni FIB tersebut menjadi guru pengganti seni budaya di sebuah sekolah Kabupaten Kubu Raya menuntunnya pada realita.

Keprihatinannya akan minimnya akses bacaan dan rendahnya minat baca anak-anak di sekitarnya mendorongnya untuk melakukan aksi nyata. Dengan memanfaatkan koleksi buku sastra pribadinya dari masa kuliah, alumni Bahasa dan Sastra Indonesia itu pun mendirikan perpustakaan kecil sederhana di rumahnya. Inisiatif kecil yang ia rintis kini berkembang jadi komunitas bernama “Roemadjiwa”.

“Saya mulai merasakan keresahan-keresahan yang tak tertahankan. Berkaitan dengan literasi, saya merasa literasi di lingkungan saya mengajar tidak mumpuni. Belum lagi, sekolah masih belum ada buku yang menunjang. Saya yang punya buku banyak dari masa kuliah, dengan prinsip mulai aja dulu, saya membangun perpustakaan mini di rumah saya,” jelasnya. 

Suasana aktivitas edukasi di Roemadjiwa (Fot: Istimewa)
Dampak Rumah Literasi

Rumah literasi yang kini dikenal dengan Roemadjiwa ini merupakan salah satu komunitas yang tergabung dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat. Roemadjiwa telah menerima bantuan 1000 buku sebagai bagian dari program nasional untuk meningkatkan literasi dan akses masyarakat terhadap informasi. Tak hanya jadi sekadar tempat baca, Nurul juga menyebutkan bahwa Roemadjiwa mengadakan berbagai kursus.

“Jika sebelumnya kelas Bahasa Inggris hanya berlangsung hari minggu, saat ini Roemadjiwa membuka kelas Bahasa inggris setiap hari senin-kami, wajib diikuti oleh teman-teman yang secara sadar daftar dan telah mengikuti seleksi. Program tetap lainnya ialah Jum’at Literasi; setiap hari jumat teman-tema Roemadjiwa atau sering kami sebut memberdjiwa melakukan kegiatan-kegiatan literasi,” jelasnya.

Dampak kehadiran Roemadjiwa mulai terasa. terutama dalam mengubah pola pikir generasi muda di kampungnya. “Tapi saya yakin, jika SDM di lingkungan saya terus dikembangkan dan didukung makan bukan hanya anak-anak yang mengalami perubahan, tapi kampung ini akan bisa lebih memberikan dampak untuk lingkungan baik skala kecil maupun skala besar,” tegasnya.

Prestasi Gemilang

Tak tinggal diam, Nurul juga menorehkan prestasi dengan meraih Juara 2 Nasional Pemuda Pelopor Desa. Keikutsertaannya dalam ajang tersebut memiliki tujuan strategis. “Yakni memperkenalkan dan ingin mengangkat nama Reomadjiwa ke permukaan. Jika Reomadjiwa bergerak dalam senyap maka tidak akan ada perubahan yang cukup pesat. Tetapi, jika saya memperjuangkan pada lomba-lomba terutama yang diadakan oleh pemerintah (Kemendes dan Kemenpora) saya yakin akan ada jalan dan warna baru untuk Roemadjiwa.

Ke depan, Ia berharap mampu mewujudkan program beasiswa bagi anak-anak berprestasi di Roemadjiwa. “Setiap kebaikan yang kita berikan pada masyarakat pasti akan kembali pada diri kita, mungkin ia tidak senantiasa berbentuk materi, bisa saja kebaikan tersebut berupa kekuatan-kekuatan baru yang akan mempermudah impian-impian kita di masa depan,” pesannya.

Penulis: Mohammad Adif Albarado

Editor: Ragil Kukuh Imanto