UNAIR NEWS – Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Amare Amodia Laksita, terpilih sebagai Duta Budaya Jawa Timur 2025. Amare resmi diumumkan sebagai Putri Budaya Jawa Timur 2025 melalui laman resmi Instagram Putra Putri Budaya Indonesia pada Kamis (14/8/2025). Prestasi ini menjadi bukti kontribusi mahasiswa UNAIR dalam melestarikan budaya di tingkat regional sekaligus menyiapkan langkah menuju panggung nasional.
Perjalanan Menuju Duta Budaya
Amare mengaku motivasinya mengikuti ajang ini berawal dari keinginannya dalam mencari pencapaian baru. Ia mengaku telah aktif dalam berorganisasi sedari SMP, hingga setelah vakum Amare merasa ada sesuatu yang hilang jika tidak memiliki kegiatan. Ia juga berkeinginan untuk dapat bermanfaat terhadap orang lain lewat kegiatan yang ia lakukan.
“Motivasi awal saya adalah mencari achievement. A part of me is missing kalau saya tidak berkegiatan, dan duta budaya ini sejalan dengan minat dan studi saya di Fakultas Ilmu Budaya,” ungkapnya.
Proses seleksi dilalui mulai tahap pendaftaran online, semi final di Surabaya, hingga babak final. Meski awalnya penuh keraguan, dukungan keluarga dan teman-teman menjadi dorongan utama.
“Tantangan terbesar dari perjalanan saya sebagai Duta adalah diri sendiri, I experienced a lot of overthinking. Dan disini saya find out bahwa support dari teman-teman dan juga keluarga sangat berpengaruh untuk membuat saya tetap melangkah,” tambahnya.
Bangga Jadi Mahasiswa FIB UNAIR
Amare mengungkapkan kebanggannya sebagai mahasiswa FIB UNAIR. Ia merasa pengetahuan dari prodi dan fakultas tidak hanya berguna untuk dirinya, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat luas. “Saya sangat bangga menjadi mahasiswa FIB, karena sebagai Duta Budaya saya bisa membawa pengetahuan yang di dapat dan saya berikan ke orang lain,” ujarnya.
Sebagai Duta Budaya Jawa Timur, Amare ingin membuktikan bahwa budaya tidak hanya sebatas hal tradisional. Ia memperkenalkan advokasi Nareswari, yang terinspirasi dari tokoh Ken Dedes dari Kerajaan Singosari, Malang, sebagai ruang inklusif bagi penggiat budaya, akademisi, dan masyarakat yang aktif di media sosial.
“Saya sempat menulis artikel jurnal dan membagikannya juga di Instagram. Harapannya, itu bisa jadi ruang yang aksesibel untuk semua orang, I think what most important adalah bagaimana akhirnya nanti setiap orang yang menjadi bagian dari Ritual Budaya Jawa Timur menjalankan budaya itu dalam keseharian mereka,” jelasnya.
Amare menekankan bahwa budaya harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari. “Bahkan sesederhana mahasiswa FIB pakai batik dipadu dengan jeans atau sneakers, itu juga bentuk melestarikan budaya,” tuturnya.
Di akhir, Amare juga menitipkan tips untuk mahasiswa UNAIR untuk berani dalam mencoba hal baru. “Explore your talents, really believe that you can, dan cari teman-teman yang supportive dengan pilihanmu,” pungkasnya.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Khefti Al Mawalia





