UNAIR NEWS – Anak mengalami kejang demam atau step adalah bangkitan kejang yang terjadi akibat peningkatan suhu tubuh. Kondisi ini terjadi ketika tubuh mengalami demam tinggi yang mendadak.
Menurut dr Riza Noviandi SpA, dosen ilmu kesehatan anak Fakultas Kedokteran UNAIR, mengatakan kejang demam banyak terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Lanjutnya, penyakit ini tidak berkaitan dengan kelainan di otak, gangguan elektrolit, maupun gangguan metabolik pada tubuh.
Ia lalu menjelaskan, ada dua jenis kejang demam. Pertama, kejang demam sederhana yang terjadi hanya satu kali selama kurang dari 15 menit dalam sehari dan kejangnya berupa kejang general, yakni pada seluruh tubuh.
Kedua, kata dr Riza, kejang demam kompleks yang memiliki gejala berlawanan dari kejang demam sederhana. “Kejangnya lebih dari 15 menit dan berulang serta berupa kejang fokal atau terjadi pada area tertentu,” ujarnya dalam siaran Dokter UNAIR TV, Jumat (18/8/2023).
Penyebab
Dokter spesialis anak itu menyebut, tidak ada penyebab khusus anak dapat mengalami kejang demam. Namun, sistem tubuh anak yang cenderung imaturitas mengakibatkan ia mudah terkena rangsangan.
“Jadi anak belum bisa merespon dengan baik rangsangan-rangsangan dari luar, dalam hal ini otak. Kalau anak kena demam sedikit saja, sel-sel saraf yang sensitif itu akan terangsang untuk melepaskan gelombang yang tinggi sehingga terjadi kejang,” terang dr Riza.
Di samping itu, ia juga mengungkap faktor risiko kejang demam pada anak. Yakni, faktor keturunan atau riwayat keluarga dengan kejang demam serta anak yang sedang menderita gangguan otak.
Cara Penanganan
Berdasarkan penuturan dr Riza, terdapat tips penanganan pertama apabila anak mengalami kejang demam. Salah satunya, orang tua bisa memiringkan posisi tubuh anak, kemudian membuka kancing baju anak.
“Hal yang harus diperhatikan adalah tetap tenang. Kalau misalnya anak posisinya dalam posisi duduk, bisa miring dan buka kancing baju yang menyesakkan supaya anak tidak tersedak,” paparnya.
Bagi anak yang pertama kali mengalami kejang demam, ia menyarankan agar segera ke pelayanan kesehatan. Sementara anak yang sudah pernah kejang demam sebelumnya bisa mengkonsumsi obat Diazepam sesuai dosis yang dianjurkan.
Pada pasien tertentu, dr Riza mengatakan ada dua tipe pengobatan. Di antaranya, tipe obat intermiten yang diberikan sekali tempo dan tipe obat perawatan bagi pasien yang mengalami kejang demam berulang sebanyak empat kali dalam setahun. Terlebih, apabila kejang tersebut bersifat fokal.
Terkait tata laksana kejang demam, sambungnya, dilakukan jika memenuhi kriteria seperti demam tidak turun dalam waktu tiga hari. Selain itu, pasien yang mengalami diare, muntah, kejang fokal, atau gangguan neurologi. Maka dr Riza bisa merekomendasikan pemeriksaan darah, elektroensefalografi, CT scan, hingga MRI.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kejang demam berbeda dengan epilepsi sehingga orang tua tidak perlu panik. “Yang penting kita harus bisa mengenali kondisi anak. Apabila kejang pertama langsung bawa ke IGD karena memang masa-masa di bawah 5 tahun itu cukup riskan untuk perkembangan anak,” pungkas dokter yang bertugas di RSUD dr Soetomo itu.
Penulis: Sela Septi Dwi Arista
Editor: Nuri Hermawan





