UNAIR NEWS – Negara Indonesia saat ini semakin mendekati kontestasi pemilu yang akan digelar pada tahun 2024 mendatang. Berbagai cara peserta pemilu lakukan untuk mendapatkan suara dalam pemilihan tersebut. Salah satunya yakni menyasar anak muda yang saat ini mendominasi dalam penggunaan media sosial.
Sebagai anak muda, Thoriq Haidar Al Roychan Ghozali turut memberikan tanggapannya mengenai pemilu melalui program bernama Rumah Demokrasi oleh TVRI Jatim pada (15/5/2023). Dalam perbincangan tersebut Thoriq selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga bersama narasumber lainnya membahas mengenai tema Kutebar Pesona, Kudapat Suara.
Dalam acara tersebut, Thoriq menyampaikan bahwa pemilu saat ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab saat ini strategi kampanye oleh para calon sudah mulai memasuki ranah media sosial. Hal tersebut dapat dengan mudah menyasar anak muda karena menjadi pengguna terbanyak.
“Sebagai anak muda kita harus membentengi diri dengan sifat selektif. Kita harus pandai memilah dan memilih mana akun yang benar-benar memiliki akuntabilitas. Jangan hanya akun yang condong pada satu pihak saja,” ujar Thoriq.
Perlu Selektif
Menanggapi mengenai bagaimana anak muda melihat media sosial, Thoriq menjelaskan bahwa yang anak muda ketahui adalah berdasarkan apa yang dia ikuti di sosial media. Selain selektif, ia juga menegaskan bahwa anak muda perlu memiliki rasa keingintahuan yang besar.
“Anak muda selalu menelusuri apa hal yang sedang viral. Para calon peserta pemilu dapat memanfaatkan pemilu dengan membuat dirinya menjadi pusat perhatian agar anak muda mencari tahu tentang dirinya. Dengan begitu akan menaikkan popularitas,” tutur Thoriq.
Strategi lain yang partai politik lakukan adalah dengan menggandeng influencer. Menurut Thoriq hal tersebut juga dapat memberikan pengaruh kepada pemuda. Sebab para penggemar dari influencer tentunya memperhatikan idolanya sehingga partai tersebut juga ikut tersorot oleh apa yang influencer lakukan.
“Yang anak muda inginkan bukanlah influencer yang diambil, melainkan apa gagasan yang dipakai oleh para calon itu pro terhadap anak muda dan dapat menyuarakan aspirasi mereka,” terangnya.
Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik UNAIR itu juga memiliki program kerja bernama Politeach yang menyasar para pelajar. Tujuannya untuk memberikan edukasi kepada pemilih pemula. Melalui program kerjanya tersebut ia ingin pemilih pemula tidak terbawa arus yang ada di media sosial. Pemilih pemula harus melihat para calon berdasarkan gagasannya dan bukan dari opini yang ada di media sosial.
“Nilai yang diinginkan adalah nilai partisipasi dimana pemilih hadir langsung memberikan suaranya dan kedua adalah bagaimana calon pemimpin itu menjadi representasi bagi anak muda. Bukan hanya dari opini, melainkan kebijakan dan latar belakangnya,” ungkap Thoriq.
Menjawab mengenai kriteria pemimpin, Thoriq mengatakan bahwa pemimpin yang anak muda harapkan adalah yang memiliki gagasan baru dan angin segar. Gagasan tersebut dapat menjawab permasalahan yang ada di masyarakat. Thoriq berharap agar pemuda selektif dan memiliki partisipasi yang besar dalam pemilu meski hanya menjadi pemilih. (*)
Penulis : Nova Dwi Pamungkas
Editor : Binti Q Masruroh





