UNAIR NEWS – Sturgeon adalah salah satu ikan purba yang masih hidup. Ikan penghasil kaviar tersebut masuk kedalam dalam famili Acipenseridae. Proses reproduksi alami ikan sturgeon terbilang lambat. Sekali bertelur betina dewasa harus melewati proses hidup paling lambat 10 tahun. Kombinasi reproduksi lambat dan nilai jual prestisius kaviar sturgeon rentan terhadap eksploitasi berlebihan.
Produksi Alami Terus Turun
Pemateri, Prof Dorota Fopp-Byat mengatakan produksi alami ikan sturgeon di Polandia terus mengalami penurunan. Berbagai ancaman ikan invasif yang bukan merupakan spesies lokal merusak ekosistem yang telah terbentuk. Kondisi tersebut diperburuk dengan pencemaran air yang semakin masif sepanjang aliran sungai Polandia.
“Polusi air membuat beberapa status ikan sturgeon berada diambang kepunahan dan jelas mengganggu produksi kaviar hasil alam,” kata akademisi University of Warmia and Mazury in Oisztyn Polandia itu.
Kini produksi ikan sturgeon terus bertambah lewat budidaya. Dengan pakan, temperatur, dan karakteristik air yang tepat membuat produksi ikan dapat bertelur mulai umur 5 tahun. Namun, spesies seperti siberian sturgeon fish tetap memiliki alur reproduksi yang lebih panjang hingga 7 tahun.
Penerapan Analisis Genetik
Penggunaan model optimal akan membuat produksi kaviar dari sturgeon yang berkualitas. Pemijahan ikan sturgeon varietas alami akan meningkatkan biaya produksi karena proses reproduksi yang panjang. Maka penerapan budidaya menggunakan pendekatan analisis genetik menjadi langkah terbaik.
“Aplikasikan analisis genetik dapat mengembangkan variasi genetik baru. Sekaligus untuk mengurangi risiko hibridisasi, kawin sedarah, maupun penurunan tingkat variasi genetik pada generasi baru,” jelasnya.
Dalam budidaya yang efektif jenis kelamin sturgeon harus mendapatkan perawatan hingga matang. Sedangkan saat usia dewasa kelamin 1 jantan dapat mengawini 3 betina. Oleh karena itu, pemisahan kelamin dapat dilakukan sejak awal. Tetapi kelamin baru dapat teridentifikasi mulai umur 3 tahun.
“Solusinya adalah mengaplikasikan manipulasi kromosom ataupun gyogenesis,” tuturnya.
Dalam kuliah tamu bertajuk “Sturgeons, Aquaculture, Genetics, and Conservation” dari Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi. Kegiatan tersebut bertempat di Ruang Sidang Kampus Giri pada Minggu (7/7/2024).
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Khefti Al Mawalia





