Dalam dunia forensik, identifikasi pribadi sangat penting, terutama setelah bencana seperti kecelakaan lalu lintas, kebakaran, kecelakaan pesawat, dan tragedi massal lainnya. Ilmu forensik berperan penting dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi serta mengidentifikasi tersangka, menjadikannya bagian esensial dari sistem peradilan pidana.
Ilmu forensik didasarkan pada Hukum Individualitas, yang menyatakan bahwa setiap materi memiliki fitur unik yang tidak dapat direplikasi. Para ilmuwan forensik menggunakan berbagai teknik seperti profil DNA, analisis sidik jari, dan catatan gigi untuk membandingkan bukti dan menentukan identitas seseorang. Kombinasi bukti postmortem dan data antemortem sangat penting untuk identifikasi yang akurat.
Dalam pemeriksaan forensik, estimasi jenis kelamin sangat penting, terutama ketika hanya tersisa tulang kerangka. Tulang-tulang seperti panggul, tengkorak, dan sternum digunakan untuk memperkirakan jenis kelamin. Namun, tulang-tulang ini sering ditemukan dalam keadaan terfragmentasi, sehingga sulit untuk diidentifikasi. Oleh karena itu, peneliti beralih ke tulang yang lebih padat, seperti sinus maksilaris, yang lebih tahan terhadap kerusakan.
Odontologi forensik menggunakan bukti gigi untuk membantu investigasi kriminal dan identifikasi individu. Salah satu tekniknya adalah analisis morfometrik sinus maksilaris, yang dapat memberikan informasi penting tentang identitas dan gaya hidup seseorang. Ukuran dan bentuk sinus maksilaris bervariasi antar individu dan dipengaruhi oleh usia, genetika, dan jenis kelamin. Analisis ini berpotensi menjadi alat berharga dalam pemeriksaan forensik.
Penelitian menunjukkan bahwa analisis morfometrik sinus maksilaris dapat membantu dalam identifikasi forensik. Misalnya, studi pada orang dewasa Italia menemukan bahwa volume sinus maksilaris berkorelasi dengan usia dan indeks massa tubuh (BMI). Analisis lainnya menunjukkan bahwa pria memiliki volume sinus maksilaris yang lebih besar dibandingkan wanita, dan bahwa volume sinus ini lebih besar pada individu yang melakukan pekerjaan fisik intens.
Sinus maksilaris adalah rongga di rahang atas yang dapat digunakan untuk identifikasi forensik karena ketahanannya terhadap trauma dan dekomposisi. Hal ini menjadikannya alat yang berguna untuk estimasi jenis kelamin, terutama ketika metode lain seperti analisis DNA tidak memungkinkan. Perbedaan ukuran dan bentuk sinus maksilaris antara pria dan wanita memungkinkan identifikasi jenis kelamin yang akurat.
Teknik pencitraan non-invasif seperti computed tomography (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI) menghasilkan gambar yang dapat dianalisis untuk pengukuran linier dan volumetrik. Tomografi terkomputasi sinar kerucut (CBCT) adalah bentuk modifikasi dari CT tradisional yang menghasilkan gambar diagnostik berkualitas tinggi dengan dosis radiasi lebih rendah. CBCT dianggap sebagai standar emas dalam pencitraan oral dan maksilofasial karena akurasi diagnostiknya yang tinggi.
Studi ini bertujuan mengevaluasi akurasi berbagai karakteristik sinus maksilaris dalam mengidentifikasi dimorfisme seksual. Dengan menggunakan teknik analisis yang canggih, para peneliti berharap dapat meningkatkan metode identifikasi forensik, terutama dalam situasi yang sulit.
Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)
Link: https://peerj.com/articles/16991/
Baca juga: Estimasi Usia Gigi, Metode Penting dalam Identifikasi Forensik di Indonesia





