UNAIR NEWS – Hayyundasari Brillianza Arintra atau yang disapa Arin berhasil mengukir pengalaman berarti di kancah internasional. Mahasiswi prodi Sosiologi Universitas Airlangga ini menjadi salah satu delegasi di dua forum internasional, yaitu Regent Asia Summit (RAS) dan ASEAN Undergraduate Symposium (AUS). Pada forum yang berlangsung di Singapura itu ia saling bertukar pikiran dengan berbagai mahasiswa dari mancanegara.
Bahas Isu Regenerasi
Pada kesempatan tersebut Arin banyak mendapat wawasan mengenai isu regenerasi. Hal ini menjadi urgensi tersendiri, sebab banyak orang mengira bahwa regenerasi artinya meninggalkan budaya dan kearifan lokal. Lantas menggantikan nilai tersebut dengan paham yang dianggap lebih ‘modern’.
“Bagi saya, konsep regeneration bukan sekadar menciptakan sesuatu yang benar‑benar baru. Regeneration adalah sebuah proses menghargai sesuatu yang sudah ada, nilai, budaya, bahkan sistem yang sudah berjalan lama. Kemudian membawanya kembali ke permukaan dengan wujud yang lebih segar, lebih relevan, dan lebih baik untuk masa depan,” ungkapnya.
Berdialog dengan Masyarakat Adat
Tidak hanya pertemuan dengan sesama mahasiswa, Arin juga berkesempatan untuk melakukan dialog langsung dengan masyarakat adat di Singapura. Salah satunya lewat kunjungan di Black Sampan, ia bertemu dengan ‘orang laut’. Orang laut merupakan kelompok yang memperjuangkan identitas dan tradisi lokal mereka di tengah gempuran perubahan zaman.

“Saya mendapat kesempatan untuk berbicara di forum terbuka, membagikan cerita saya tentang Trenggalek, desa pesisir yang membentuk perjalanan hidup saya. Saya bercerita tentang penelitian saya di bidang sosiologi, tentang kearifan lokal yang saya temui. Dan saya terharu ketika banyak orang dari berbagai negara mendengarkan dengan penuh perhatian. Saat itu saya merasa bahwa suara kecil dari desa saya benar‑benar diterima di panggung dunia,” papar Arin.
“Dari RAS dan AUS, saya belajar untuk berani keluar dari zona nyaman, menghargai perbedaan, dan membuka telinga untuk cerita orang lain. Semua bekal yang saya dapat selama belajar di Indonesia. Disiplin, kemandirian, kemampuan riset, sangat membantu saya beradaptasi di lingkungan internasional,” pungkasnya.
Penulis: Afifah Alfina
Editor: Yulia Rohmawati





