UNAIR NEWS – Airlangga Nursing Journalist (ANJ) Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan seminar kesehatan mental pada Minggu (18/6/2023). Kegiatan itu terselenggara secara luring di Gedung Kuliah Bersama (GKB) Kampus MERR-C UNAIR.
Dalam pembukaannya, Rosita selaku ketua organisasi ANJ FKp menyampaikan alasannya mengambil topik kesehatan mental pada gelaran kali ini. Menurutnya, banyak data survey yang menunjukan bahwa remaja sering mengalami gangguan kesehatan mental.
“Pada tahun 2022 sebanyak 15,5 juta remaja mengalami gangguan kesehatan mental. Terdapat 2,45 juta di antaranya sudah dinyatakan positif gangguan mental. Maka dari itu, sebagai mahasiswa keperawatan yang berkecimpung di dunia media, informasi ini menjadi suatu hal yang penting,” ucapnya.
Sebagai perawat millenials, lanjutnya, perlu untuk menjadi garda terdepan yang lebih peka terhadap teknologi yang ada. Kepekaan terhadap teknologi menurutnya akan mempermudah dalam penyebarluasan informasi mengenai permasalahan yang ada, salah satunya kesehatan mental.
Dalam seminar yang bertajuk Kenali, Waspadai, dan Atasi Burnout pada Mahasiswa tersebut hadir dr Azimatul Karimah SpKJ(K) sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa fenomena burnout ataukelelahan secara ekstrem marak terjadi pada kalangan pelajar dan mahasiswa.
“Maraknya burnout pada mahasiswa sebab banyaknya tugas terutama saat perkuliahan daring. Memaksakan diri bekerja dan belajar secara terus menerus tanpa adanya istirahat tidak hanya menimbulkan kelelahan fisik, tapi juga dapat mengancam kesehatan mental,” ungkapnya.
Burn Out Akademik
Menurut dr Azimatul, terdapat beberapa gejala yang kerap terjadi saat burnout yang dialami oleh mahasiswa. Gejala itu salah satunya ialah sering menunda pekerjaan dan mudah merasa bosan.
“Beberapa gejala lain yang biasanya seperti memiliki motivasi yang rendah. Selanjutnya adala sulit berkonsentrasi dan selalu merasa cemas. Hal ini dapat menimbulkan stress hingga depresi,” paparnya.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan saat mengalami burnout. “Pertama, kita perlu untuk membicarakannya. Mengungkapkan apa yang sedang terasakan dan apa yang dihadapi kepada orang lain,” tutur dr Azimatul.
kedua, membuat skala prioritas. Menurutnya, membuat skala prioritas berarti menentukan apa saja hal yang penting untuk dilakukan. “Bisa dengan membuat jadwal dan menentukan apa yang perlu lakukan terlebih dahulu, apa yang sekiranya bisa terhapus dan tidak penting,” ucapnya.
Ketiga, menyusun target. Ada beberapa hal yang dapat lakukan untuk menyusun target. ia menamainya menggunakan istilah SMART, yaitu Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Timely. “Selain itu, perlu mengatur pola hidup sehat, menciptakan kelompok dukungan dan terakhir mendapatkan bantuan dari ahlinya,” pungkasnya.
Penulis: Tia Restutika
Editor: Nuri Hermawan
Baca Juga: UNAIR Raih Penghargaan Lembaga Humas Terbaik dalam Indonesia GPR Awards





