UNAIR NEWS – Prestasi kembali terukir di Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Airlangga (UNAIR). Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia menjadi Penerima Anugerah Makalah Terbaik Sastera dalam Seminar Antarbangsa Susastera, Bahasa & Budaya Nusantara (SUTERA) pada Kamis, (24/8/2023).
Makalah dengan tajuk Demistyfication of Nusantara Gosh Stories in Intan Paramadhita Litery Woks berhasil Rima Firdaus MHum selesaikan selama kurang dari tiga hari. Lebih lanjut, makalah ini dipresentasikan pada SUTERA ke- 2 di Thailand.
Dalam wawancara, Rima Firdaus mengaku bahwa topik yang ia usung sudah terpikirkan jauh hari. Lebih lanjut, ketertarikannya akan hantu-hantu yang tersebar di mitos Indonesia dan yang terdapat di buku Intan dengan gambaran perempuan berambut panjang.
“Muncul banyak pertanyaan, kenapa hantu-hantu yang sering muncul di pembicaraan selalu berjenis kelamin perempuan. Terlebih mereka selalu dideskripsikan berambut panjang. Ternyata setelah saya amati lebih jauh, di karya Intan juga tidak jauh berbeda,” jelas Rima pada Kamis, (7/9/2023).
Seminar yang dihadiri oleh raja Perlis Malaysia tersebut diselenggarakan pada 22-24 Agustus 2023 di Thailand. Selama bergabung pada seminar tersebut, ketertarikan Rima Firdaus akan hantu-hantu Nusantara semakin berkembang. Ia mengatakan bahwa hantu-hantu di Malaysia juga didominasi perempuan berambut panjang.
“Kenapa harus perempuan berambut panjang, itu yang selalu menjadi pertanyaan saya. Ternyata dari empat karya Intan yang saya baca, hantu-hantu tersebut tidak hadir dari kekosongan. Mereka datang memiliki tugas dan fungsi masing-masing,” tuturnya.

Hantu Perempuan Dobrak Budaya Patriarki
Rima Firdaus mengatakan bahwa, makalah ini ia buat dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme cerita mistik hadir dalam karya Intan Paramadhita. Lebih lanjut, pertama untuk mengetahui eksistensi dan demistifikasi hantu-hantu yang selalu muncul dalam keempat karya Intan Paramadhita.
“Objek penelitian saya empat karya Intan Paramadhita, yaitu Kumpulan Budak Setan (2010), Gentayangan (2017), Sihir Perempuan (2017), dan Malam Seribu Jahanam (2023). Keempat karya ini menghadirkan sosok hantu yang berbeda dengan deskripsi yang sama. Secara keseluruhan ini menyinggung soal feminisme di Indonesia,” ujarnya.
Selanjutnya, Rima Firdaus juga mengatakan bahwa dari keempat karya Intan terdapat enam belas hantu yang ada dan terdeskripsikan. Lebih lanjut, tiga hantu laki-laki dan tiga belas hantu perempuan. Tandasnya, hantu-hantu perempuan yang tampil dan terdeskripsikan dengan detail untuk menunjukkan perempuan yang seram.
“Secara tidak langsung hantu mampu mewakili eksistensi perempuan. Banyak hantu yang hadir untuk menunjukkan eksistensinya dengan mengkritik mitos-mitos terhadap perempuan. Banyak hantu yang hadir untuk mencoba menyuarakan ketidakadilan terhadap perempuan, seperti Sundel Bolong, Kuntilanak, Hantu Pemakan Darah Haid, Hantu Ibu, dan lain sebagainya. Kemudian, hantu laki-laki menunjukkan posisinya dalam mengkonstruksi perempuan,” lanjut Rima Firdaus.
Rima Firdaus mengatakan, sosok perempuan yang hadir sebagai hantu di mitos-mitos maupun karya adalah upaya untuk mendobrak budaya patriarki. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perempuan bukanlah ‘liyan’ dan keberadaannya selalu ada di dalam kehidupan.
Penulis: Cahyaning Safitri
Editor: Nuri Hermawan





