Universitas Airlangga Official Website

Apakah Terapi Plasma Konvalesen Berpengaruh terhadap Keparahan COVID-19 berdasarkan Ekspresi IL 10 dan IL 12?

Foto by Generali Indonesia

Tahukah anda bahwa terapi dengan menggunakan terapi plasma konvalesen dapat berpengaruh terhadap keparahan COVID-19? Jika anda tidak mengetahui maka anda selayaknya membaca artikel yang dipublikasikan oleh Damayanti dkk pada tahun 2023. Disebutkan bahwa terdapat dua jenis sitokin (sitokin inflamasi dan sitokin anti-inflamasi) yang dihubungkan dengan tingkat keparahan yang ditimbulkan akibat COVID-19. Pada penelitian Damayanti dkk, diambil dua jenis sitokin yaitu sitokin interleukin (IL) 10 dan IL 12 karena kedua jenis IL ini merupakan biomarker utama yang berhubungan dengan keadaan klinis pasien COVID-19. Kedua jenis sitokin tersebut diperiksa setelah diambil dari subjek penelitian yang sebelumnya telah dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok COVID-19 yang diberi dan tanpa diberi terapi dengan menggunakan plasma konvalesen.

Salah satu terapi COVID-19 adalah dengan berbasis antibodi, yaitu antibodi plasma konvalesen. Antibodi plasma konvalesen adalah terapi yang mengandung viral neutralizing antibody dimana penggunaan antibodi plasma konvalesen dapat menekan/mensupresi keadaan viremia pada pasien COVID-19 dan merupakan salah satu terapi yang ideal pada kasus infeksi yang disebabkan oleh Syndrome Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Mekanisme kerja terapi konvalesen sama dengan penggunaan terapi berbasis antibodi pada umumnya yaitu menurunkan sitokin IL 10 dan IL 12 yang merupakan dua jenis biomarker utama keadaan klinis pasien COVID-19.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pasien COVID-19 yang mendapat terapi antibodi plasma konvalesen menunjukkan peningkatan kadar sitokin IL 10, penurunan terhadap kadar sitokin IL 12, perbaikan keadaan klinis yang dapat diamati melalui: temperature tubuh, laju pernapasan, detak jantung, dan nilai PaO2/FIO2 dibandingkan dengan kelompok pasien COVID-19 yang tidak mendapatkan terapi antibodi plasma konvalesen. Peningkatan kadar sitokin IL 10 dan penurunan kadar sitokin IL 12 (signifikan secara statistic) disebabkan oleh aplikasi terapi plasma konvalesen menghambat proses pematangan sel dendritik sehingga terjadi penurunan aktivitas sel Th1 dan peningkatan aktivitas el Th2 yang berujung terhadap penurunan kadar sitokin IL 12 dan peningkatan kadar IL 10.

Penulis: Prof. Dr. Theresia Indah Budhy, drg., M.Kes., Sp.PMMF (K)

Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/202303071154055_0587.pdf

Ratna Damayanti, Septyana Eka Rahmawati, Roni Handayani, Rian Anggia Destiawan, Anwar Ma’ruf, Jusak Nugraha, Theresia Indah Budhy. [2023] Effect of Convalescent Plasma Therapy on IL-10 and IL-12 Levels in COVID-19 Patients at Haji Surabaya General Hospital Randomly. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Vol. 19(3), pp: 19-22