UNAIR NEWS – Departemen Anatomi dan Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga memiliki laboratorium unggulan level internasional. Namanya Airlangga Surgical Anatomy Development Center atau ASAD-C. Tampilan ruang anatomi yang sejatinya tidak berubah sejak seabad lalu itu, kini telah di design ulang menjadi ruang laboratorium anatomi yang modern yang di sekelilingnya dilengkapi peralatan kedokteran relatif canggih.
Penggagas berdirinya ASAD-C, Asra Al Fauzi, dr. Sp.BS, menjelaskan bahwa tidak mudah membuat kadaver laboratorium selayaknya ASAD-C. Hal ini antara lain dikarenakan sulitnya memperoleh pasokan fresh cadaver. Permasalahan serupa juga terjadi di Amerika, Jepang, dan Eropa.
Di Jepang dan Singapura, bila hendak praktik menggunakan cadaver, maka harus impor jenazah dari Amerika. Itupun tidak utuh, melainkan hanya bagian-bagian tubuh (body part) sesuai yang dipesan. Bahkan di Rusia sama sekali melarang penggunaan mayat untuk keperluan praktik kedokteran.
Berdasarkan pengamatan Asra, pada beberapa venue di luar negeri, biasanya laboraturium kadaver dibuat secara dadakan di tempat workshop berlangsung, sehingga sifatnya bongkar pasang. Berbeda dengan milik ASAD-C, dimana semua perangkat telah dirancang dan disiapkan secara permanen.
Suasana dibuat benar-benar seperti ruang operasi yang sesungguhnya. Terdapat video tiga dimensi dengan layar monitor besar yang terpampang pada dinding. Peserta workshop dapat menyaksikan monitor dengan menggunakan kacamata khusus 3D (dimensi). Dan disini tersedia 100 kacamata 3D.
Venue laboratorium ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih. Antara lain sistem video operasi 3D, pendant, dan refrigerator fresh cadaver. Laboratorium kadaver ini sangat cocok untuk kegiatan workshop dan pelatihan anatomi manusia.
Disini terdapat 20 meja operasi lengkap dengan peralatan pendant di atas meja masing-masing. Saluran listrik juga siap terpasang, sehingga tidak lagi terlihat silang sengkarut kabel oloran di lantai. ASAD-C juga sudah memiliki 16 refrigerator alat penyimpan mayat, hingga terjaga kesegarannya. Satu refrigerator bisa menyimpan dua kadaver.
”Kita memang membuat agar setiap peserta pelatihan merasa benar-benar berada dalam ruang operasi. Kami juga sudah bisa membuat pembuluh darah kadaver menjadi berwarna dengan menyuntikkan zat tertentu. Arteri diberi warna merah. Memang tidak semua lab kadaver bisa melakukan, untuk itu perlu belajar khusus di luar negeri,” katanya.
Dikisahkan, awalnya tidak mudah membentuk lab seperti ini. Selain biayanya besar juga tidak semua pihak mendukung, karena mereka tidak melihat urgensi dan peluang ke depannya. Tetapi akhirnya semua bisa diyakinkan sehingga terwujudlah ASAD-C. Sampai saat ini belum semua peralatan terpasang. Masih ada peralatan baru yang akan datang dalam waktu dekat ini, diantaranya peralatan C-AM yaitu semacam foto operasi tulang untuk melihat hasil pelaksanaan operasi tulang.
Asra Al Fauzi menambahkan, obsesi ke depan ingin menjadikan ASAD-C sebagai venue klas dunia dalam tiga sisi: worldclass venue, worldclass equipment, dan worldclass instructor. Untuk menuju ke sana, kini berbagai upaya pembenahan terus dilakukan. Termasuk menjalankan manajemen terpadu. Dengan manajemen yang baik, maka penggunaan kadaver akan lebih efektif dan efisien yang pada gilirannya akan menurunkan ekonomi biaya tinggi.
”Kita patut berbangga. Apalagi lab seperti ini di Indonesia baru ada di UNAIR. Saya berani katakan, venue ini yang terbaik di Asia, atau setidaknya di Asia Tenggara. Di Chulalongkorn University Thailand juga ada, tetapi tak sebagus punya UNAIR, mereka tidak punya video 3D. Di Jepang juga tidak ada fasilitas 3D, sedang di Amerika saya juga sudah lihat,” katanya. (*)
Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Bambang Bes





