UNAIR NEWS – Seiring dengan perayaan Hari Gizi Nasional Indonesia yang umumnya diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 Januari, AMAZI 2026 meluncurkan inisiatif program edukasi bertajuk “Optimalisasi Program Makanan Bergizi Gratis Berbasis Pangan Lokal Menuju Generasi Emas 2045” Program ini berlangsung dari awal Februari hingga akhir bulan, dan berfungsi sebagai platform penting bagi mahasiswa program studi kesehatan di seluruh Indonesia untuk membahas tantangan gizi kontemporer, khususnya Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia.
Perayaan ini disusun sebagai dengan dua acara utama, menggabungkan kompetisi kreatif dengan webinar akademis. Kompetisi dilaksanakan terlebih dahulu dengan mengundang mahasiswa dari berbagai latar belakang kesehatan untuk menunjukkan keahlian mereka melalui dua kategori: lomba pembuatan menu MBG dan lomba sayembara opini. Dengan lebih dari 50 peserta, kompetisi ini mendorong calon profesional kesehatan untuk berpikir kritis tentang penerapan praktis dan implikasi kebijakan program pemberian makan skala besar.

Acara mencapai puncaknya pada 28 Februari dengan webinar berskala besar yang menampilkan analisis tiga perspektif tentang inisiatif gizi. Pembicara pertama, Miko Ardiansyah S.Gz, seorang praktisi gizi yang aktif bekerja dalam Program Makan Bergizi Gratis Indonesia, memberikan gambaran langsung dari lapangan. Ia menjelaskan kompleksitas dalam mengelola dapur institusi dan berbagi tantangan harian serta manfaat implementasi program di tingkat lokal.
Menambahkan lapisan kritis dalam diskusi, Dr. Tan Shot Yen, tokoh terkemuka dan vokal di komunitas medis Indonesia, membahas hambatan dan masalah dalam pengembangan program. Dengan membagikan umpan balik industri dan memberikan kritik konstruktif, ia menyoroti kebutuhan akan perbaikan berkelanjutan dalam implementasi program untuk mencapai tujuan kesehatan utamanya. Diskusi kemudian bergeser ke perspektif internasional dengan seorang dosen dari UiTM Malaysia, Dr. Syahrul Bariah Abdul Hamid, yang memaparkan studi perbandingan program pemberian makan sekolah yang sudah mapan di Malaysia, memberikan pelajaran berharga tentang perbedaan kebijakan dan penetapan tujuan.
Seminar beralih ke sesi talk show yang dinamis, di mana audiens aktif mengajukan pertanyaan kritis kepada pembicara mengenai masa depan program MBG di Indonesia. Pertukaran interaktif ini menyoroti kesuksesan acara dalam menumbuhkan budaya penelusuran di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum. Acara ini secara langsung mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 2: Nol Kelaparan dengan memprioritaskan optimalisasi program makanan bergizi untuk menghilangkan malnutrisi dan memastikan ketahanan pangan melalui sumber daya lokal.
Dengan melibatkan mahasiswa kesehatan dalam diskusi akademis dan penciptaan menu, inisiatif ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan mengembangkan pengetahuan khusus dan pemikiran kritis yang esensial bagi tenaga kesehatan masa depan. Selain itu, kolaborasi antara praktisi dan dosen internasional mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Tujuan, menunjukkan bagaimana pertukaran pengetahuan lintas batas dapat memperkuat kebijakan nasional untuk generasi emas yang lebih sehat. Acara ditutup dengan sesi penghargaan bagi pemenang lomba dan sesi dokumentasi bersama, menandai akhir yang sukses dari serangkaian acara yang didedikasikan untuk meningkatkan wawasan gizi nasional.
Penulis: AMAZI UNAIR





