UNAIR NEWS – Airlangga Webinar Conference Series (AWCS) ke-122 yang bekerja sama dengan Ikatan Alumni UNAIR di Inggris ulas tren ketimpangan dan disparitas etnis pada anak stunting. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga kembali mengadakan kegiatan tersebut secara daring melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu (21/10/2023).
Webinar AWCS Ke-122 terselenggara dengan konsep “Postgraduate Health Science Research Showcase”. Kegiatan itu mengundang beberapa alumni yang memiliki riset terkait dunia kesehatan. Riset-riset itu kerja sama dengan universitas ternama di dunia seperti University of Oxford, University College London, dan University of Birmingham.
Kekurangan Nutrisi pada Anak
Salah satu pembicara pada webinar kali ini adalah Fildzah Cindra Yunita Skep MPH, alumni dari Ilmu Keperawatan Universitas Airlangga. Ia mengambil Master of Public Health di University of Birmingham. Fildzah membawakan materi penelitian seputar “Trends in Inequality and Ethnic Disparities in Childhood Stunting, Wasting, and Underweight in Indonesia from 2013 to 2022”.
Fildzah menyampaikan bahwa penyebab utama dari kasus stunting adalah undernutrition atau kekurangan nutrisi. “Kekurangan nutrisi pada anak merupakan penyebab utama dari beberapa penyakit, seperti keterlambatan perkembangan kognitif, kerentanan terhadap penyakit, hingga risiko kematian,” jelas Fildzah.
Fildzah kemudian menambahkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 45% kasus kematian anak usia kurang dari 5 tahun yang dengan terkait kekurangan gizi. Di Indonesia, lanjutnya, kasus-kasus tersebut tersebar pada seluruh wilayah khususnya daerah pedesaan, terluar, dan kabupaten tertinggal.
“Ketimpangan status sosial ekonomi, kesenjangan regional, dan keragaman etnis menjadi kontributor penting dalam masalah ini,” paparnya.
Ketimpangan & Kasus Stunting
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Fildzah, dapat tersimpulkan bahwa terjadi penurunan angka stunting di Indonesia pada periode yang ia teliti. “Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan signifikan dari tren stunting, wasting, dan underweight. Utamanya pada anak usia 0-49 bulan di Indonesia selama periode 2013-2022,” ungkap Fildzah.
Fildzah kemudian menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang jelas antara indikator ekonomi dengan penurunan risiko stunting, wasting, dan kekurangan berat badan pada anak. Kelompok masyarakat kaya, sambungnya, cenderung secara konsisten mengalami penurunan risiko dari waktu ke waktu. Sehingga, lanjutnya, anak-anak yang tinggal pada daerah perkotaan secara konsisten memiliki kondisi yang lebih baik.
“Ketimpangan etnis harus mendapat perhatian serius dan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengambilan kebijakan kesehatan. Kesadaran akan kesehatan harus terkembangkan pada kalangan perempuan tanpa adanya pembatasan bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan,” pungkas Fildzah.
Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor: Nuri Hermawan





