UNAIR NEWS – Masalah stunting masih menjadi perhatian utama dalam upaya memastikan pertumbuhan anak yang sehat. Rendahnya kesadaran mengenai pentingnya gizi seimbang dan pola asuh yang tepat menjadikan isu ini perlu tertangani secara serius. Melihat hal itu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan aksi nyata untuk meningkatkan status gizi masyarakat melalui Bakti Mahasiswa. Rangkaian kegiatan itu terselenggara secara bertahap. Mulai dari pre-event, main-event, post event pada bulan Oktober hingga Februari 2026 di Kecamatan Tambaksari.
Kontribusi Nyata
Pada kegiatan main event yang digelar Sabtu (29/11/2025), Dr Sulistiawati dr MKes selaku dosen pembimbing menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Salah satu fokusnya adalah pendampingan kepada bayi di bawah usia dua tahun (batuta).
Ia berharap berharap kegiatan ini dapat memberikan kontribusi dan pemahaman yang benar bagi mahasiswa baru angkatan 2025 dalam berkontribusi memantau tumbuh kembang balita. “Selain mereka belajar berkomunikasi dan dapat bermanfaat bagi masyarakat, program ini juga bermanfaat untuk memastikan apakah program pemerintah yang sudah dicanangkan berjalan dengan baik dan memberikan dampak nyata,” tuturnya. Seluruh mahasiswa baru yang terlibat dibagi ke lima kelurahan di Kecamatan Tambaksari. Yakni Gading, Kapasmadya Baru, Ploso, Rangkah, dan Tambaksari.
Pendampingan Batuta
Lebih lanjut, Dr Sulistiawati menjelaskan bahwa pendampingan balita di bawah dua tahun menjadi tujuan utama program. Tak hanya pendampingan, kegiatan ini juga memberikan edukasi stunting dan nutrisi pediatri, medical check-up, pembagian bantuan sosial, serta workshop pembacaan growth chart WHO.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan Kecamatan Tambaksari dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. “Kami mengharapkan adanya pendampingan dari adik-adik mahasiswa baru ini akan memberikan kontribusi edukasi dan persepsi yang benar pada orang tua balita di bawah dua tahun. Serta saling mendukung agar ada perbaikan balitanya,” harapnya.
Dengan demikian, pemilihan Kecamatan Tambaksari menjadi lokasi pelaksanaan berdasarkan pada masih adanya permasalahan gizi di wilayah tersebut serta posisinya sebagai salah satu desa binaan UNAIR. “Sebagai desa binaan, UNAIR memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata, minimal melalui pendampingan berkelanjutan.
Penulis: Adinda Octavia Setiowati
Editor: Yulia Rohmawati





