Universitas Airlangga Official Website

Banjir Informasi dan Hoaks, Guru Besar UNAIR Serukan Literasi Digital yang Beretika

Guru Besar Ilmu Perilaku Informasi, Fakultas Vokasi (FV), Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Dessy Harisanty SSos MA memberikan orasinya di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus Merr-C UNAIR pada Rabu (29/10/2025). (Foto: Humas UNAIR)
Guru Besar Ilmu Perilaku Informasi, Fakultas Vokasi (FV), Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Dessy Harisanty SSos MA memberikan orasinya di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus Merr-C UNAIR pada Rabu (29/10/2025). (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – Lebih dari jutaan informasi dengan beragam bentuknya yang kini mudah beredar di tengah masyarakat. Kecepatan informasi itu menimbulkan sulitnya memilah informasi yang beredar. Fenomena ini membuat sorotan utama Guru Besar Ilmu Perilaku Informasi, Fakultas Vokasi (FV), Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Dessy Harisanty SSos MA memberikan orasinya di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus Merr-C UNAIR pada Rabu (29/10/2025).

Dalam orasinya, Prof Dessy mengungkapkan bahwa manusia dahulu mengenal simbol yang ditulis dalam relief goa yang sekarang berkembang dengan temuan informasi berupa internet. “Dulu masyarakat kita hanya sebagai menerima informasi, namun sekarang mengalami pergeseran menjadi masyarakat konsumer. Artinya masyarakat sekarang tidak hanya menerima informasi melainkan memproduksi informasi,” jelasnya. 

Prof Dessy menegaskan bahwa kemajuan teknologi komunikasi melahirkan kemampuan luar biasa pada manusia. Namun, disisi lain hal tersebut membawa tantangan baru. Arus data yang tak terbendung, maraknya berita bohong (hoaks), dan jembatan algoritma yang memperkuat bias informasi telah menyebabkan menurunnya daya kritis masyarakat. 

Menanggapi situasi tersebut, Prof Dessy menekankan perlunya literasi kritis dan etika informasi yang menjadi dua tiang penyangga kehidupan digital. “Literasi kritis bukan sekadar kemampuan membaca, tapi memahami makna dibalik teks. Sedangkan etika informasi adalah pagar moral, ia mengajarkan kita untuk menghormati privasi, orisinalitas, dan bertanggung jawab atas dampak sosial setiap unggahan,” tuturnya. 

Sebagai masyarakat konsumer, menurutnya, juga harus memiliki tanggung jawab ganda atas informasi. Mereka perlu memverifikasi kebenaran informasi sebelum membahagiakannya. “Sebagai produsen mereka wajib memastikan konten yang mereka buat tidak plagiat dan merugikan pihak lain,” tambahnya. 

Lebih lanjut, Prof Dessy, memaparkan beberapa strategi penting dalam membangun masyarakat digital yang sehat. Di antaranya, melalui pendidikan literasi digital sejak dini agar generasi muda terbiasa berpikir kritis. Selain itu juga, perlu membiasakan etika informasi dengan menghormati sumber, mencantumkan atribusi dan tidak menyebarkan informasi sebelum diverifikasi. 

Menurutnya, pendidikan memiliki peran dalam melahirkan insan yang cakap secara teknis, beretika secara moral dan kritis secara intelektual. “Mereka lah yang menjadi benteng pertama dan terakhir bagi kejernihan informasi di tengah kebisingan dunia global,” ungkapnya.

Penulis : Adinda Octavia Setiowati

Editor : Khefti Al Mawalia