Universitas Airlangga Official Website

BBK 7 Desa Bandungan Gelar Dapur Gizi Pasar Untuk Tingkatkan Gizi Balita

Tim mahasiswa BBK 7 Desa Bandungan bersama ibu balita, bidan, dan kader posyandu (Foto: Istimewa).
Tim mahasiswa BBK 7 Desa Bandungan bersama ibu balita, bidan, dan kader posyandu (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar program edukasi gizi bertajuk Dapur Gizi Pasar. Kegiatan itu bertempat di Balai Desa Bandungan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, pada Selasa (13/1/2026). Kegiatan tersebut mengundang 15 ibu balita sebagai upaya meningkatkan pemahaman gizi anak untuk mencegah angka stunting di desa.

Program itu tercetus sebab masih minimnya pengetahuan ibu mengenai pemenuhan gizi seimbang, khususnya pada anak usia toddler atau satu hingga tiga tahun. Kegiatan itu dikemas dengan bentuk penyuluhan serta demonstrasi memasak menu sehat berbahan lokal pasar. 

Pada demonstrasi memasak, tim BBK turut menggandeng Sri Untari AMd Keb selaku bidan Desa Bandungan. Untari, sapaan dekat bidan itu, memperkenalkan inovasi menu memasak nasi lemak dan nasi bento, yang menurutnya memiliki manfaat untuk menambah berat badan anak. Ia menjelaskan, pemilihan menu memasak nasi itu selaras dengan kondisi balita yang umumnya mengalami kesulitan makan dan kurang asupan lemak tubuh.

“Rata-rata balita yang berat badannya kurang, makannya tidak seimbang. Jadi bukan hanya nasinya, tapi kita inovasikan dengan nasi lemak yang ditambah margarin dan santan. Dari baunya saja sudah merangsang nafsu makan. Saat dimakan juga lebih enak,” ujar Untari.

Tim mahasiswa BBK 7 Desa Bandungan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun saat melakukan demo masak nasi lemak dan bento (Foto: Istimewa).
Penuhi Tiga Unsur Gizi

Ia menyebut bahwa respons balita selama kegiatan menunjukkan perubahan positif. “Tadi waktu makan, ada balita yang biasanya tutup mulut atau hanya makan sedikit saja satu-dua sendok. Tetapi ketika makan bersama temannya, separuh porsi akhirnya bisa habis. Berarti ini kan ada pengaruhnya,” jelas Untari. 

Selain nasi lemak, nasi bento juga menjadi menu demo masak dengan lauk sederhana seperti tempe goreng, ayam fillet, dan sayur sop. Menu tersebut, lanjut Untari, telah memenuhi unsur karbohidrat, protein, dan vitamin. “Kalau tiga unsur gizi itu tidak lengkap atau kurang satupun nanti bisa pengaruh pada tumbuh kembang balita,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Untari kemudian memaparkan faktor-faktor anak dapat mengalami stunting. “Mendisiplinkan anak sejak dini itu yang paling penting karena faktornya bisa juga dari pengaruh lingkungan, penyakit bawaan, pola asuh, hingga ekonomi sosial. Jadi tidak melulu soal makan,” tuturnya. 

Tanamkan Pemahaman Pola Asuh Anak

Sementara itu, ketua tim BBK, Nada Mutiara Azham, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi edukasi berkelanjutan bagi ibu balita. “Program ini secara khusus mengedukasi ibu-ibu tentang bagaimana memperbaiki gizi anak. Terutama yang sudah berada di angka stunting agar proses pertumbuhannya bisa lebih cepat,” tuturnya. 

Melalui kegiatan ini, Nada dan tim ingin menanamkan nilai kesadaran pola asuh serta pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin. Hal itu, lanjut Nada, juga mendukung langkah Sustainable Development Goals (SDGs) ke-10, tentang Reduced Inequalities

“Kami berharap, program kami membantu ibu-ibu memahami pola asuh anak. Itu juga mindset supaya mereka lebih aware tentang pemenuhan gizi yang tepat setelah ini,” pungkas Nada. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Ragil Kukuh Imanto