Universitas Airlangga Official Website

BBK 7 Kesilir Ajak Santri Darul Mukhtar Bijak Bermedia Sosial

Sharing session bersama santri (Foto: Dok. Tim BBK)
Sharing session bersama santri (Foto: Dok. Tim BBK)

Media sosial sering kali menjadi ruang yang rentan bagi anak-anak di bawah umur. Berbagai konten dapat diakses dengan mudah, mulai dari komentar negatif terhadap orang lain hingga praktik perjudian daring (online). Fenomena ini kian mudah ditemui dan tidak sedikit yang mulai mencontoh perilaku tersebut.

Menyikapi hal itu, mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Desa Kesilir berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Darul Mukhtar untuk membekali para santri dalam menghadapi kehidupan pascapesantren, khususnya terkait penggunaan media sosial. Meski berada di lingkungan pondok, sebagian santri tetap membawa ponsel untuk keperluan pendidikan. Kegiatan edukasi ini diselenggarakan pada Selasa (20/1/2026) sore, usai aktivitas belajar mengajar di pondok pesantren tersebut berakhir.

Acara dibuka dengan sesi berbagi (sharing session) oleh anggota kelompok BBK 7 Kesilir yang juga merupakan alumni pondok pesantren. Sesi ini bertujuan memberikan gambaran mengenai dinamika kehidupan setelah lulus dari pesantren, terutama di tengah pesatnya era digitalisasi. Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai batas aman dan risiko yang jarang disadari dalam bermedia sosial oleh Adenia Dearesta, mahasiswa Fakultas Hukum.

Kurang lebih sebanyak 60 santri dan santriwati yang sedang tidak memiliki jadwal pelajaran hadir dalam kegiatan ini. Pihak pondok pesantren menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut, mengingat para santri merupakan kelompok pelajar yang perlu mendapatkan pemahaman lebih dalam mengenai bahaya laten di media sosial.

“Alhamdulillah, Mas dan Mbak yang saat ini sedang KKN di Desa Kesilir bersedia mengajarkan adik-adik santri di sini tentang cara bijak bermedia sosial. Bagaimanapun juga, saat ini kita hidup di era digital. Walaupun saat ini mereka sedang mondok dan jarang membuka ponsel, saya rasa tetap perlu menyiapkan mereka sedari dini mengenai bagaimana seharusnya bersikap di media sosial,” tandas Luqya Miftahurrahmah, selaku pengasuh pondok pesantren saat diwawancarai selepas acara.

Para santri yang hadir menunjukkan antusiasme yang tinggi. Saat sesi tanya jawab berlangsung, banyak peserta yang mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Tak sedikit pula yang berbagi pengalaman pribadi mereka selama berinteraksi di dunia maya.

Penjelasan materi (Foto: Dok. Tim BBK)

Adenia, selaku pemateri, turut menekankan imbauan mengenai risiko yang mengintai jika pengguna tidak berhati-hati, mulai dari sanksi norma sosial hingga konsekuensi hukum. “Jangan sampai adik-adik di sini mendapatkan sanksi atas perilakunya di media sosial. Sanksi dapat berupa sanksi sosial maupun hukum. Jaga ketikan dalam berkomentar, jangan mudah terpancing pesan dari orang asing, dan jangan mudah tergiring opini,” tegas Adenia saat menyampaikan materi.

Inisiatif ini merupakan implementasi nyata dari poin keempat Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata bagi siapa pun. Melalui sosialisasi literasi digital ini, mahasiswa BBK 7 Kesilir berupaya memperluas akses pengetahuan di luar kurikulum formal pesantren agar para santri memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan memberikan bekal pemahaman yang tepat mengenai dunia digital, program ini diharapkan dapat mewujudkan pilar pendidikan berkualitas yang mampu memberdayakan generasi muda untuk bersikap kritis, bijak, dan bertanggung jawab di ruang publik digital.

#SDG4  #QualityEducation #SDGsUNAIR

Penulis: Mujahid Abdullah