UNAIR NEWS – Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) Kelompok 7 Universitas Airlangga Desa Belik melaksanakan kegiatan kolaboratif bersama Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) Desa Belik, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, pada Rabu (14/1/2025). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Belik pukul 09.00–11.00 WIB ini berfokus pada penyuluhan Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan pencegahan stunting sebagai respons atas masih tingginya angka stunting di desa tersebut.
Kegiatan ini melibatkan mahasiswa BBK 7 UNAIR, kader Posyandu, serta Bidan Desa Belik, Bdn. Nurijah Istiqomah STr.Keb, kerap disapa Ibu Nuri yang menjadi mitra utama dalam pelaksanaan layanan kesehatan. Selain memberikan penyuluhan, mahasiswa juga turut berperan aktif dalam kegiatan rutin Posyandu balita dan lansia yang terintegrasi dalam skema Posyandu ILP (Integrasi Layanan Primer).
Setidaknya 38 balita dan sekitar 15 lansia tercatat hadir dalam kegiatan tersebut. Penyuluhan MPASI menekankan pentingnya pemberian MPASI sejak bayi berusia enam bulan, jenis makanan yang perlu dihindari seperti gula, garam, dan madu, serta pengenalan MPASI berbasis pangan lokal, khususnya ubi yang mudah dijumpai di Desa Belik. Materi disampaikan secara interaktif menggunakan mediaposter, di tengah suasana Posyandu yang khas dengan suara tangis bayi dan aktivitas kader yang berjalan paralel.
Sementara itu, materi pencegahan stunting memuat pemahaman dasar mengenai stunting, cara mengenali gejalanya, hingga langkah pencegahan melalui pendekatan ABCDE, yakni Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD), Bumil rutin periksa kehamilan minimal enam kali, Cukupi konsumsi protein hewani, Datang ke Posyandu setiap bulan, dan Eksklusif ASI selama enam bulan, serta pemaparan singkat mengenai penanganan stunting.
Keterangan: Mahasiswa BBK 7 UNAIR, Moch Shultan (kiri) dan Dhea Ediand (kanan) memberikan penyuluhan MPASI dan pencegahan stunting kepada ibu-ibu peserta Posyandu di Balai Desa Belik, Trawas, Rabu (14/1/2025). “Sekali lagi ya ibu-ibu, mungkin di lidah ibu makanan yang tanpa garam dan gula itu tidak enak namun lidah bayi merasakan rasa yang berbeda, jika ditambah garam justru tidak baik bagi si bayi” ujar Moch Shultan , salah satu mahasiswa BBK 7 Unair yang menjadi pemateri kegiatan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa BBK 7 UNAIR Desa Belik tidak hanya berperan sebagai pengedukasi masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak di tingkat desa, tetapi juga turut terlibat langsung dalam pelaksanaan Posyandu rutin bersama para ibu-ibu kader.
Penulis: Tim KKN-BBK 7 UNAIR Desa Belik





