Universitas Airlangga Official Website

BBK 7 UNAIR Karangcangkring Dorong Literasi Anak Usia Dini Lewat Pojok Baca

Mahasiswa KKN BBK 7 Mendampingi anak-anak TK di Desa Karangcangkring saat memanfaatkan Pojok Baca sebagai sarana literasi dan pembelajaran di dalam kelas.
Mahasiswa KKN BBK 7 Mendampingi anak-anak TK di Desa Karangcangkring saat memanfaatkan Pojok Baca sebagai sarana literasi dan pembelajaran di dalam kelas.

UNAIR NEWS – Minat baca dan literasi anak usia dini memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan kemampuan bahasa, kognitif, serta pembentukan karakter anak, karena kebiasaan berinteraksi dengan buku sejak dini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan ketertarikan terhadap proses belajar. Namun, keterbatasan akses terhadap bahan bacaan yang sesuai usia masih menjadi tantangan, khususnya di lingkungan pedesaan. Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) BBK 7 Universitas Airlangga menghadirkan program Pojok Baca bagi anak-anak TK di Desa Karangcangkring, Kabupaten Lamongan, sebagai upaya mendorong literasi dan minat belajar anak usia dini.

Program ini diawali dengan kegiatan observasi pada Kamis (8/1/2026) untuk melihat situasi belajar mengajar siswa serta menentukan lokasi penempatan pojok baca di ruang kelas. Berdasarkan hasil observasi tersebut, pelaksanaan program dilakukan pada Sabtu (10/1/2026) dengan memasang dan menghias rak baca sederhana berisi buku cerita bergambar dan buku edukatif yang sesuai dengan usia anak.

Pojok baca dimanfaatkan sebagai sarana pendukung belajar siswa. Mahasiswa BBK mendampingi anak-anak saat berinteraksi dengan buku secara mandiri, seperti mengenal gambar, huruf, dan isi cerita sederhana. Program Pojok Baca ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi Universitas Airlangga melalui semangat Kampus Berdampak dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini di lingkungan desa.

Salah satu Guru TK, Bu Eka, menyampaikan bahwa keberadaan pojok baca memberikan dampak positif yang langsung terlihat di kelas. “Begitu anak-anak masuk dan melihat pojok baca dengan rak-rak berisi berbagai buku cerita bergambar, mereka langsung antusias mengambil dan melihat buku. Anak-anak TK A yang belum bisa membaca pun senang melihat gambar-gambarnya,” ujarnya.Menurut Bu Eka, pojok baca juga sangat membantu proses belajar mengajar. “Dengan adanya pojok baca sangat membantu kegiatan belajar mengajar. Kami sudah pernah melaksanakan pelajaran bercerita kepada anak-anak dengan menggunakan buku cerita yang ada di pojok baca,” terangnya. Lebih lanjut, Bu Eka berharap keberadaan pojok baca dapat meningkatkan semangat belajar anak sekaligus mendukung program pemerintah GELAS CANTING, yakni gerakan literasi sekolah yang bertujuan membiasakan anak berinteraksi dengan buku sejak usia dini melalui kegiatan belajar yang menyenangkan.

Penulis: Maritza Sabita