Universitas Airlangga Official Website

BBK UNAIR Ajak Warga Kedunglerep Olah Limbah Jagung Melalui Eco-enzym

Mahasiswa BBK saat melaksanakan program penyuluhan pembuatan eco-enzim kepada warga Desa Kedunglerep, Lamongan
Mahasiswa BBK saat melaksanakan program penyuluhan pembuatan eco-enzim kepada warga Desa Kedunglerep, Lamongan

UNAIR NEWS – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama masyarakat (BBK) 5 Universitas Airlangga (UNAIR) sukses melaksanakan program penyuluhan pembuatan eco-enzym kepada warga Desa Kedunglerep, Lamongan. Kegiatan ini terlaksana di balai Desa Kedunglerep yang berlangsung pada Selasa (21/1/2024).

Program penyuluhan yang melibatkan anggota Pemberdayaan Kesehatan Keluarga (PKK) Desa Kedunglerep tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran Masyarakat. Terkait pentingnya pengelolaan sampah organik dan pemanfaatan limbah secara berkelanjutan.

Desa Kedunglerep terkenal sebagai penghasil jagung yang melimpah. Oleh karena itu, mahasiswa BBK 5 UNAIR menginisiasi program inovatif untuk mengatasi masalah limbah jagung di Kedunglerep. Dengan memanfaatkan teknologi eco-enzym serta mengajak warga untuk mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.

Mahasiswa BBK bersama anggota PKK usai melaksanakan program (Foto: Istimewa)
Mahasiswa BBK bersama anggota PKK usai melaksanakan program (Foto: Istimewa)

Program ini berhasil mengurangi volume sampah organik dan menghasilkan pembersih alami berkualitas tinggi. Seperti pembersih lantai, karbol, serta limbahnya dapat digunakan pupuk tanaman. Proses pembuatan eco-enzym melibatkan fermentasi limbah bonggol jagung dengan air dan gula tebu.

Hasil fermentasi ini kemudian dapat diaplikasikan pada tanaman, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen. Warga dapat memproduksi pembersih alami secara mandiri dan bahkan menjualnya kepada petani di sekitar, hingga menciptakan peluang usaha baru.

Anggrifa, selaku kepala Dusun Rembuloh menyampaikan manfaat mengenai kegiatan penyuluhan eco-enzym ini. “Dengan adanya materi eco-enzym ini, sampah sayuran yang biasanya terbuang sia-sia bisa termanfaatkan. Selain itu, bisa menghemat biaya untuk deterjen, dan membersihkan sumber air yang kurang jernih,” ujarnya.

Selain penyuluhan, pada kegiatan ini juga terdapat sesi diskusi lengkap dengan tanya jawab mengenai topik yang tersaji. Para peserta antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ina, selaku Kepala Desa Kedunglerep memberikan tanggapannya terkait kegiatan ini.

“Kebetulan limbah terbesarnya di desa ini bonggol jagung dan pengolahannya cuma dibakar saja. Tapi kalau ada eco-enzym ini bisa termanfaatkan sebaik mungkin. Jadi, kegiatan ini sangat bermanfaat dan bisa dipraktikkan secara langsung,” ujarnya.

Dengan memanfaatkan limbah organik yang selama ini sering terbuang percuma, eco-enzym dapat menjadi solusi yang ramah lingkungan dan ekonomis.

Penulis: Meylia Muji A

Editor: Yulia Rohmawati