Universitas Airlangga Official Website

Beda Kurikulum Hingga Budaya Belajar, Mahasiswa UNAIR Kupas Kultur Pendidikan Jepang

Sesi Talkshow Bersama Michael Colin Sebagai Narasumber. (Foto: Ahmad Abid Zhahiruddin)
Sesi Talkshow Bersama Michael Colin Sebagai Narasumber. (Foto: Ahmad Abid Zhahiruddin)

UNAIR NEWS – Perbedaan budaya selalu menjadi topik menarik, terutama dalam dunia pendidikan tinggi yang semakin global. Untuk membahas hal tersebut, Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga menggelar webinar Connect The Dots 2.0 dengan tajuk “Clash of Cultures: Campus Cultures in Conversation”.

Acara yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Minggu (21/9/2025) menghadirkan Michael Colin. Seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Institute Tokyo Japan sekaligus Co-founder JURANG.

Michael membagikan pengalamannya mengenai perbedaan mendasar antara sistem edukasi di Jepang dan Indonesia. Menurutnya, salah satu perbedaannya terletak pada kurikulum.

“Kalau menurut saya sendiri ya, ini mungkin karena pertama, mereka (Jepang) menang di segi kurikulum. Di Jepang, mereka sudah solid dan fokus ke satu kurikulum. Pemerintahannya berganti, tapi kurikulumnya tidak ikut ganti, hanya ada penyesuaian kecil,” tambahnya.

Lebih lanjut, Michael menjelaskan bahwa sistem seleksi masuk universitas di Jepang sangat ketat dan berlapis. Selain tes umum setara UTBK yang disebut Common Entrance Exam, calon mahasiswa juga harus mengikuti tes spesifik di setiap universitas yang dituju (University-based Entrance Exam).

Ketatnya seleksi ini, menurut Michael, melahirkan budaya belajar yang sangat intensif di kalangan siswa. Banyak dari mereka yang mengikuti les tambahan sepulang sekolah (cram school) hingga malam hari. Bahkan, tidak sedikit siswa yang memutuskan untuk gap year selama setahun khusus untuk belajar di prep school demi bisa masuk ke universitas unggulan.

“Dari data Kementerian Pendidikan Jepang tahun 2021, kurang lebih 22,4 persen anak yang masuk ke universitas di tahun itu adalah anak yang gap year,” jelasnya.

Meskipun sistemnya berbeda, Michael menekankan bahwa mahasiswa Indonesia tetap bisa bersaing dan mengambil banyak pelajaran. Menurutnya, keuntungan utama belajar di lingkungan internasional adalah kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara.

“Kalau misal kita ketemu orang-orang itu, kita bisa belajar tentang pola pikir mereka. Itu yang menurut saya paling penting,” tuturnya. Interaksi lintas budaya ini, katanya, membuka pendekatan baru dalam memecahkan masalah dan mendorong inovasi.

Bagi mahasiswa yang tidak memiliki kesempatan belajar di luar negeri, Michael berpesan untuk tetap proaktif. “Di sini kan kita sudah modern, jadi kita sudah ada fasilitas internet. Kita bisa memaksimalkan internet ini misalnya kita bisa nyari teman-teman online, program-program internship, short exchange, bahkan online job juga bisa,” tutupnya.

Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin 

Editor: Khefti Al Mawalia