UNAIR NEWS – Untuk mengenang sejarah perjuangan kaum muda dalam melawan rezim Orde Baru, Universitas Airlangga bersama Komunitas Pembaca Buku Aldera mengadakan kegiatan kuliah tamu dan bedah buku Aldera Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999. Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan di Auditorium Ternate Lantai 1 Gedung ASSEC Tower UNAIR pada Selasa (11/4/2023).
Dr Pius Lustrilanang S IP MSi CSFA CFrA sebagai keynote speaker sekaligus penggagas buku Aldera menyampaikan rasa syukur dan keluh kesahnya dalam menulis buku tersebut. “Saya bersyukur buku ini terbit di dalam 25 tahun reformasi. Sulit menulis buku ini karena harus mengingat 30 tahun yang lalu,” ucapnya.
Sekilas, buku itu menceritakan tentang gerakan para pemuda dalam melawan rezim orde baru yang terlalu otoriter. Pergerakan kaum muda tersebut tersebar di beberapa kota terutama di wilayah Jawa.
“Buku ini bercerita mengenai perlawanan anak muda di beberapa kota. Kota mana saja yang membentuk Aldera? Jakarta, Bandung, Bogor, Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur, dalam melawan rezim orde baru yang dipimpin oleh Soeharto, itu inti buku ini,” jelas Pius.

Aldera atau Aliansi Demokrasi Rakyat merupakan salah satu organisasi pergerakan kaum muda terutama mahasiswa anti-otoritarian pada masa rezim orde baru. Mereka perlu waktu kurang lebih sekitar 20 tahun dalam menjatuhkan rezim Soeharto sampai 21 Mei 1998.
Pius yang juga menjabat sebagai anggota VI BPK RI periode 2022 hingga sekarang, mengatakan bahwa meskipun perjuangan mereka berhasil pada masa orde baru, tetapi bibit-bibit otoritarian masih ada di era saat ini. Bibit-bibit otoritarian itu, seperti perpanjangan jabatan, pemilu ditunda, dan jabatan tiga periode.
Kondisi Politik Dunia
Kegiatan ini juga mengundang narasumber dosen Departemen Hubungan Internasional UNAIR Ahmad Safril Mubah SIP MHubInt PhD. Ia menyampaikan tiga periode penting terkait kondisi politik dunia dalam memahami buku Aldera.
Pertama, pasca Perang Dunia II, yaitu terjadinya dekolonisasi di Afrika dan Asia yang mengalami transformasi ke sistem demokrasi. Kedua, periode Perang Dingin, yaitu penerapan demokrasi, seperti adanya pemilu dan beberapa pergerakan di dunia. Ketiga, periode Pasca Perang Dingin, yaitu menyebarnya Neoliberalisme ke dunia, salah satunya Indonesia.

Selain itu, dosen Hubungan Internasional ini juga mengatakan bahwa komunikasi saat ini berbeda dengan zaman dahulu yang harus bertemu secara langsung. Untuk itu, mahasiswa saat ini dapat menggunakan media sosial dalam mengkoordinasi pergerakan, tetapi tetap perlu menyaring informasi-informasi yang tersebar.
Pemuda sebagai Agen Perubahan Sosial
Dr Listiyono Santoso SS MHum juga memberikan argumennya mengenai buku Aldera ini. Ia mengatakan bahwa kontribusi Indonesia adalah buah perjuangan pemuda. Dari pemuda inilah, perubahan sosial dapat berjalan.
“Dari sekian ratus mahasiswa, ada sekelompok kecil orang yang berbicara tentang keindonesiaan, Budi Utomo salah satunya,” ucap Listiyono.

Listiyono sebagai Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya UNAIR mengatakan bahwa buku Aldera ini dapat mengukuhkan sejarah peran mahasiswa. Sebab, melalui peran mahasiswa sebagai aktor perubahan sosial, Indonesia banyak mengalami perubahan.
“Perubahan di Indonesia itu tidak akan pernah bisa tanpa melibatkan kaum terdidik mahasiswa,” tutup Listiyono. (*)
Penulis: Muhammad Fachrizal Hamdani
Editor: Binti Q. Masruroh





