Universitas Airlangga Official Website

Bedah Buku TRIP Kisahkan Sepak Terjang Perjuangan Pasukan Pahlawan

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga kembali menggelar kegiatan bedah buku pada Sabtu (11/11/2023) di Aula Garuda Mukti Lantai 5 Universitas Airlangga Kampus C UNAIR. Kali ini bedah buku mengusung tema kepahlawanan sering dengan nuansa hari pahlawan pada 10 November.

Buku yang dibahas berjudul Trip: Perjuanganmu Ku Teruskan Sampai Akhir Zaman. Buku ini berisi tentang catatan tentang perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dalam Perang Kemerdekaan 1947. 

Acara ini menghadirkan Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum serta Nanda Avalist SIP MSi Ph selaku pengulas buku dengan Prof Dr Suparto SH MH selaku moderator. 

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Rayyana Komunikasindo dari keluarga besar Almarhum Peltu (Purn). H. Roestono Soeparto Koesoemo.

Kisah dalam buku ini dilatari oleh dinamika peristiwa yang bergulir sejak Proklamasi yakni Kemerdekaan 17 Agustus 1945, disusul dengan eskalasi yang berpuncak pada meletusnya pertempuran 10 November 1914 Surabaya. Dalam peristiwa tersebut, ketahanan dan semangat juang Republik Indonesia muda yang baru saja berdiri diuji untuk pertama kalinya. 

Di tengah-tengah dahsyatnya kecamuk pertempuran di Surabaya tersebut, lahirlah eksponen pelajar bersenjata yang kemudian mengonsolidasikan diri menjadi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Komando & Jawa Timur.  “Kelahiran TRIP berawal dari pertempuran di Kota Surabaya,” ungkap Prof Purnawan. 

Buku ini mengabadikan sepak terjang perjalanan perjuangan pasukan TRIP, mulai dari Surabaya, hingga peran TRIP dalam melindungi gerakan mundur pasukan Republik dari Surabaya menuju kantung-kantung perlawanan di kedalaman hutan belantara gunung dan lembah, hingga penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949. 

“TRIP merupakan pahlawan yang berjasa dalam militer Indonesia,” ujar Dr Nanda. 

Dalam buku tersebut, dijabarkan pula secara detail tentang perjuangan TRIP dalam berjuang. TRIP melakukan perjuangan dengan berjalan kaki, melintasi ratusan kilometer jalan setapak di belantara hutan rimba, jalan desa yang berlumpur, dan aspal panas jalanan yang membara, seringkali tanpa alas kaki apalagi sepatu, dengan senjata tersandang setia di bahu.

Perjalanan tersebut bahkan sambil harus menarik dan mendorong meriam penangkis serangan udara, seraya terus bergerak senyap sebagai kesatuan gerilya, menggempur, dan menghilang, menebar frustasi dan ketakutan pihak pasukan penjajah. “Pasukan TRIP merupakan pejuang yang melewati banyak rintangan demi mencapai kemerdekaan,” tutur Prof Purnawan yang juga menjabat sebagai Dekan FIB UNAIR ini.

Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani

Editor: Khefti Al Mawalia