Di banyak tempat, bekicot raksasa Afrika (Achatina fulica) lebih dikenal sebagai hama kebun daripada makanan. Namun di balik citranya yang sering dianggap menjijikkan, siput darat ini ternyata menyimpan potensi gizi yang sangat besar. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Achatina fulica bisa menjadi sumber protein alternatif yang menjanjikan—meski tetap menyimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.

Mengapa Dunia Mulai Melirik Sumber Protein Alternatif?

Pertumbuhan penduduk dunia, krisis iklim, dan mahalnya daging konvensional mendorong para ilmuwan mencari sumber protein baru yang lebih berkelanjutan. Daging siput darat, termasuk Achatina fulica, mulai mendapat perhatian karena:

Bahkan, konsumsi daging siput dunia diperkirakan terus meningkat dari puluhan ribu ton per tahun.

Kaya Protein, Rendah Lemak

Secara nutrisi, daging Achatina fulica tergolong sangat unggul. Berbagai studi menunjukkan bahwa daging bekicot:

Kandungan ini menjadikan bekicot berpotensi besar untuk membantu mengatasi malnutrisi dan stunting, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber protein hewani.

Gudang Mineral Penting bagi Tubuh

Tak hanya protein, Achatina fulica juga kaya mineral penting, antara lain:

Karena itu, bekicot dinilai cocok sebagai sumber gizi bagi anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya—tentu jika diolah dengan benar.

Lebih dari Sekadar Makanan

Menariknya, potensi bekicot tidak berhenti pada nilai gizinya. Lendir dan jaringan Achatina fulica mengandung berbagai senyawa bioaktif yang telah diteliti memiliki:

Karena itu, ekstrak bekicot kini banyak dikaji dalam bidang farmasi, kosmetik, dan biomedis.

Di Balik Manfaat, Ada Risiko Serius

Meski menjanjikan, konsumsi bekicot tidak bebas risiko. Achatina fulica dikenal sebagai:

Risiko ini terutama tinggi pada bekicot yang dipanen langsung dari alam liar, tanpa pengawasan kebersihan dan keamanan pangan.

Lingkungan Tercemar, Pangan Ikut Terancam

Sebagai hewan yang hidup di tanah dan memakan bahan organik membusuk, bekicot sangat sensitif terhadap pencemaran lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa bekicot dapat menyerap:

Artinya, bekicot bukan hanya sumber pangan, tetapi juga indikator pencemaran lingkungan.

Solusi: Budidaya Terkendali dan Keamanan Pangan

Para peneliti menekankan bahwa potensi besar Achatina fulica hanya dapat dimanfaatkan jika:

Tanpa itu, manfaat gizi bekicot bisa berubah menjadi ancaman kesehatan.

 Tantangan Budaya dan Persepsi

Selain faktor kesehatan, penerimaan masyarakat juga menjadi tantangan. Di beberapa budaya dan agama, bekicot dianggap tidak layak konsumsi. Persepsi sebagai “hama” atau “makanan orang miskin” turut menghambat pemanfaatannya secara luas.

Karena itu, edukasi berbasis sains dan pendekatan budaya menjadi kunci jika bekicot ingin diposisikan sebagai pangan alternatif masa depan.

 Penutup

Achatina fulica adalah contoh nyata bagaimana satu organisme bisa menjadi solusi sekaligus masalah. Di satu sisi, ia menawarkan protein, mineral, dan senyawa bioaktif yang sangat berharga. Di sisi lain, tanpa pengelolaan yang tepat, ia dapat membawa parasit, racun, dan pencemar berbahaya ke dalam rantai makanan manusia.

Bekicot raksasa Afrika bukan sekadar hama—ia adalah peluang besar yang menuntut kehati-hatian, ilmu pengetahuan, dan kebijakan yang tepat.

Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh, M.Sc

Judul dan link artikel jurnal internasional terindeks scopus yang dituliskan menjadi opini.

Judul     : Nutritional potential and health risks of Achatina fulica land snail: An unutilized food source

Link        : https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2949824425003313

Abdullah Al Mamun, Ririh Yudhastuti, Trias Mahmudiono, Harisun Yaakob. Nutritional potential and health risks of Achatina fulica land snail: An unutilized food source.

https://doi.org/10.1016/j.foohum.2025.100827

AIP DOSEN_Jurnal internasional terindeks scopus_Prof. Dr. Ririrh Yudhastuti, drh, M.Sc